Rabu, 08 April 2015

[Cerpen] Kutub Mencair! Selamatkan Lingkungan, Sebelum Bumi Tenggelam.

Assalamu'alaikum ^^
Meet again Rainers ^0^
Kali ini saya mau nge-share cerpen buatan saya. sebenarnya sih ini tugas Bahasa Indonesia yang materinya mengenai "Mengubah Teks Eksplansi menjadi Cerpen." Bagi Rainers yang setingkat sama saya pasti udah pada belajar materi ini :)
Cerpen ini saya tulis dalam satu malam. Dan jangan menganggap bahwa saya pintar, hebat dan semacamnya. Karena kenyataannya, saya berhasil nyelesaikan nih cerpen akibat terdesak plus terburu-buru -_-  Otak saya ini emang kenceng banget mikirnya kalau udah saat-saat terdesak -_- ckckck.
Oke Rainers, selamat membaca ^0^


Kutub Mencair! Selamatkan Lingkungan, Sebelum Bumi Tenggelam.



Seorang gadis berlari kencang menyusuri koridor sekolahnya yang kini lenggang. Bel sekolah akan berbunyi beberapa menit lagi, dan sudah bisa dipastikan gadis itu akan dihukum jika dia tidak segera sampai di dalam kelas.

Sudah menjadi peraturan sekolahnya untuk tiba di kelas tepat waktu. Dan dia tahu itu. Namun sialnya, karena banjir yang menerjang kemarin malam, jalan raya menjadi sangat macet dan dia harus menghabiskan waktu di jalanan. Padahal, dia berhasil bangun lebih pagi dari biasanya dan bisa berangkat cukup pagi. Dan entah kutukan apa yang menimpanya, dia tetap saja nyaris terlambat masuk kelas seperti hari-hari sebelumnya.

“Hufft, nyaris saja,” ucap gadis itu lega, ketika dia berhasil menginjakkan kakinya ke dalam kelas sebelum bel berbunyi.

“Telat datang karena kesiangan lagi, Vianita?” goda salah seorang temannya.

Oh, oke. Harus diakuinya bahwa nyaris terlambat adalah salah satu kebiasaannya yang sulit sekali dihilangkan. Tidak peduli berapa kali dia berusaha untuk berangkat lebih pagi, gadis itu selalu saja nyaris terlambat datang ke sekolah. Dia tidak terlambat memang. Tapi nyaris. Dan itu menyebabkan dia harus berlari agar sampai di dalam kelas sebelum bel berbunyi. Dan perlu dicatat. Berlarian di koridor hanya agar tidak terlambat masuk kelas sama sekali bukan hal menyenangkan. Apalagi dia adalah salah satu dari sejumlah spesies yang membenci kegiatan olahraga. Bahkan meskipun itu hanya sekadar berlari.

“Enak saja! Jalanan macet. Padahal aku sudah berhasil bangun pagi hari ini,” tukas Vianita tidak terima.

“Tumben sekali,” ejek temannya lagi.

“Yah, bagaimana lagi. Hari ini Ibu kelihatan kesal dan menumpahkan seember air ke wajahku,” jawab Vianita muram.

Yah benar. Dengan berat hati diakuinya bahwa dia berhasil bangun pagi hari ini dikarenakan ibunya yang menyeramkan itu menumpahkan seember air ke wajahnya. Dan dia yang saat itu sedang bermimpi menghitung jumlah cokelat Belgia yang tampak menggiurkan, tiba-tiba terlonjak bangun tanpa sempat mencicipi rasa cokelat itu sama sekali. Dan lebih sialnya lagi, ketika dia membuka mata dan sadar sepenuhnya, ibunya malah berteriak ke telinganya untuk menyuruhnya bangun. Dan teriakan itu sukses membuatnya semaput sesaat yang disertai dengan telinga berdenging.

“Mungkin dia sudah paham bahwa berteriak-teriak setiap pagi untuk membangunkanmu sama sekali tidak membuahkan hasil,” sahut salah seorang temannya yang lain.

“Benar. Karena itulah dia membangunkanku dengan cara sadis seperti itu hari ini,” angguk Vianita menyetujui.

“Hei. Hari ini Ibu Syifa yang mengisi jam pelajaran, kan?” tanya gadis itu. Mendadak antusias ketika teringat bahwa hari ini adalah pelajaran guru favoritnya.

“Ya. Kenapa?”

“Tidak. Bukan apa-apa,” jawab gadis itu sambil melanjutkan langkah menuju kursinya.


***

Vianita menekuk wajahnya kesal sambil menatap jengkel beberapa orang murid yang sedang berbicara dengan tiga orang mahasiswa yang entah datang dari universitas mana.

Gadis itu merasa kesal sekali. Ketika dia tengah mendengarkan penjelasan Ibu Syifa yang menyenangkan, tiba-tiba saja anggota BLH (Budaya Lingkungan Hidup) memanggilnya sebagai perwakilan kelas untuk sosialisasi lingkungan dari mahasiswa universitas di daerah mereka.

Dengan kesal gadis itu bertanya pada anggota BLH kenapa harus dia yang menjadi perwakilan kelas. Dan dengan santainya pria yang ditanya itu menjawab bahwa ada seorang siswa yang mendaftarkan namanya sebagai salah seorang anggota BLH, dan mulai saat ini Vianita Renahayati resmi menjadi salah seorang anggota BLH. Dan yang lebih menyebalkan, dia sudah tidak bisa lagi protes karena namanya dan nama anggota BLH yang lain sudah dikirim dan disetujui oleh Kepala Sekolah.

Sial. Siapa manusia yang berani-beraninya mendaftarkan namanya sebagai anggota BLH? Oknum tidak bertanggung jawab itu sudah berhasil membuat harinya semakin berantakan. Bagaimana tidak? Dimulai dari pagi yang menyebalkan, jalanan yang macet, aksi berlarian tidak jelas di sepanjang koridor, dan sekarang diperparah dengan masuknya dia sebagai anggota BLH.

Ya Tuhan, memangnya sejak kapan dia peduli pada lingkungan sehingga bisa didaftarkan sebagai salah satu anggota pecinta lingkungan itu? Ibunya saja sampai putus asa hanya untuk menyuruhnya menyiram bunga yang ada di halaman depan rumah. Jadi, bagaimana bisa dia menjadi anggota BLH? Organisasi yang anggotanya berisikan siswa-siswi yang peduli lingkungan. Benar-benar tidak cocok dengan dirinya yang nyaris tidak mau tahu mengenai lingkungan.

“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatu,” ucap salah seorang mahasiswa yang menggunakan kerudung yang cukup dalam.

“Wa’alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatu,” jawab seluruh siswa yang ada diruangan ini serempak.

“Selamat pagi semuanya?”

“Selamat pagi.”

 “Perkenalkan, nama kakak Lizari Nuriana. Laki-laki ganteng di samping kanan kakak bernama Revan Jaya. Dan perempuan cantik di samping kiri kakak bernama Maridha Wahyuni. Kami perwakilan dari jurusan Lingkungan Hidup Universitas Persada, ingin melakukan sosialisai mengenai lingkungan kepada adik-adik semua.”

“Adik-adik, kita semua tentu mengetahui betapa betapa pentingnya menjaga lingkungan di sekitar kita. Banyak sekali manfaat yang akan kita dapatkan jika kita dengan sungguh-sungguh merawat lingkungan, dan banyak juga dampak negatif jika kita merawat lingkungan dengan baik. Kita semua tentu sudah mengetahui dengan jelas hal itu. Nah, pada hari ini, kami bertiga akan membahas apa yang akan terjadi jika lingkungan tidak dirawat dengan baik. Materi ini akan di sampaikan oleh kak Revan. Silakan kak Revan,” ujar Lizari  sambil menyerahkan microfon kepada Revan.

“Oke adik-adik. Kita semua tentu mengetahui apa yang akan terjadi jika lingkungan di sekitar kita mengalami kerusakan. Seperti banjir, tanah longsor dan sebagainya. Namun, hari ini, kami tidak membahas mengenai dampak yang sudah umum itu. kali ini kami akan membahas topik yang jarang sekali disadari oleh orang lain. Padahal, dampaknya sangat besar dan berbahaya sekali bagi kehidupan kita.”

“Bumi memiliki dua kutub, yaitu Utara dan Selatan, yang sering kita sebut dengan Kutub Utara dan Kutub Selatan. Kedua kutub itu memilki suhu 0 derajat celsius, sehingga tempat itu tertutupi oleh es yang membeku. Pernahkah terpikirkan oleh adik-adik apa yang akan terjadi jika es di kutub itu mencair?” tanya Revan, menimbulkan kasak kusuk di sekitar siswa-siswi yang ada di ruangan itu. Tampaknya topik ini cukup menarik, karena Vianita yang beberapa saat yang lalu tampak enggan mendengarkan, kini duduk dengan tubuh tegak, tampak antusias mendengarkan penjelasan mahasiswa di depan ruangan.

“Apa kalian semua tahu? Dulu kutub itu pernah mencair dan menenggelamkan sebuah pulau yang cukup besar. Pulau itu bernama Greenland. Jika kutub mencair kembali mencair, diprediksi kota London dan Vanesia akan tenggelam. Bahkan, seluruh negara Belanda dan Denmark dipastikan akan tenggelam jika kutub kembali mencair.”

“Nah, kita semua tentu bertanya-tanya, apa hubungannya pencairan es di kutub dengan lingkungan, iya kan? Pertanyaan ini akan dijawab oleh kak Maridha. Silakan kak,” ujar Revan sambil menyerahkan microfon kepada Maridha.

“Adik-adik, seperti yang disampaikan oleh kak Reban tadi, bahwa kedua kutub itu memiliki suhu 0 derajat celcius. Jika suhunya di atas 0 derajat celsius, es di kutub tersebut akan mencair. Nah, alasan naiknya suhu ini berhubungan dengan lingkungan.”

“Kenaikan suhu dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti terjadinya pemanasan global. Pemanasan global atau yang sering disebut-sebut sebagai global warming adalah suatu proses naiknya suhu rata-rata atmosmer, laut, maupun permukaan bumi. Nah, penyebab terjadinya pemanasan global ini disebabkan oleh adanya efek rumah kaca, evek umpan balik, dan variasi matahari. Penyebab lainnya yaitu karena terjadinya kerusakan atmosfir. Atmosfir adalah lapisan udara yang melindungi bumi dari sinar ultraviolet maupun meteor. Kerusakan atmosfir terjadi karena adanya pelepasan zat freon ke udara serta polusi dari bahan bakar pesawat. Lalu bagaimana jika atmosfir kita mulai menipis atau mengalami kerusakan? Kita tidak bisa melakukan apapun untuk mengembalikannya seperti semula. Dan coba bayangkan jika atmosfir benar-benar menghilang, panas bumi akan semakin meningkat dan tentu saja akan berdampak pada es yang ada di kutub.”

“Namun, agar semua hal itu tidak terjadi, kita dapat melakukan beberapa hal untuk mencegahnya. Disinilah peran lingkungan dibutuhkan. Caranya dengan mengajak masyarakat untuk mengurangi pemakaian AC, mengurangi rumah atau gedung yang dindingnya terbuat dari kaca, serta dengan menanam banyak tumbuhan agar suhu udara menjadi lebih sejuk. Jadi, adik-adik dari organisai BLH, harus berusaha keras untuk menjaga lingkungan. Masa depan bumi kita tergantung pada diri kita sendiri. Sekian dari kakak. Terima kasih atas perhatiannya.” Terdengar gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan itu ketika Maridha selesai menyampaikan sosialisasinya.

“Waaw, ternyata begitu besar dampak yang harus kita hadapi jika kita tidak menjaga lingkungan dengan baik. Karena itu adik-adik, kita harus menjaga lingkungan. Jika kita mau dan berusaha bersahabat dengan alam, alam pun juga akan berdamai dengan kita. Oleh karena itu, mari kita jaga alam kita agar dapat sedikit mengurangi terjadinya bencana alam.”

“Baiklah. Sekian sosialisasi kita pada hari ini, terima kasih atas perhatiannya, lebih dan kurang kami mohon maaf. Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatu.”

“Wa’alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatu,” jawab seluruh murid serempak sambil mengemuruhkan tepuk tangan.

Vianita berjalan kembali ke kelasnya dengan berbagai macam hal yang berkecamuk di dalam pikirannya. Dia tidak tahu bahwa ketidakpeduliannya terhadap lingkungan akan membawa dampak yang begitu besar terhadap bumi. Ya Tuhan, dia merasa sangat bersalah karena selama ini tidak begitu peduli pada lingkungan. Bahkan sekedar membantu menyiram bunga di halaman rumahnya saja dia masih ogah-ogahan.


Baiklah. Mulai nanti sore, dia akan membuat ibunya teerkejut karena dialah orang pertama yang akan memegang selang air dan menyiram seluruh bunga yang ada di halaman.


Kamis, 01 Januari 2015

[Cerpen] Studi Wisata Kelas Sebelas IPS 4

Assalamu'alaikum ^^

Hallo Rainer's, hari ini saya mau sharing cerpen buatan saya. Sebenarnya sih cerpen ini saya tulis buat tugas Bahasa Indonesia saya, haha, tapi nggak masalah deh ^0^ baca dengan cermat ya. Ah, saya minta maaf kalau cerpen ini tidak masuk akal atau kurang menarik. Penulisnya Gaje siih :D





Studi Wisata Kelas Sebelas IPS 4

Kelas dengan dinding berwarna hijau muda yang kerap disapa sebagai kelas sebelas IPS 4 itu, menjadi ribut seketika ketika sang Wali Kelas mengumumkan sesuatu yang menurut mereka luar biasa.

“Kita akan studi wisata ke luar kota selama tiga hari dua malam. Untuk itu siapa yang ingin ikut serta perlu mendapatkan izin dari orangtua kalian. Karena ini merupakan hadiah dari sekolah, kalian dibebaskan dari beban uang makan dan uang transportasi. Kita akan berangkat minggu besok. Jadi tiga hari lagi kalian sudah harus berkumpul di sekolah jam tujuh pagi,” ujar wali kelas mereka memberitahu.

Beberapa detik kemudian, sorakan kebahagiaan dari tiga puluh lima orang siswa di kelas tersebut mulai riuh terdengar, memenuhi ruang kelas yang sudah menjadi rumah kedua bagi mereka.

Yah benar. Studi wisata kali ini memang diluar perkiraan dan merupakan sebuah kejutan yang luar biasa bagi mereka. Studi wisata ini adalah hadiah yang diberikan sekolah untuk mereka karena telah memenangkan banyak lomba ketika hari kemerdekaan beberapa minggu lalu. Dan siapa sangka bahwa ternyata hadiah dari lomba-lomba itu adalah studi wisata yang begitu luar biasa ini.

Bagaimana tidak, ketika semua murid mati-matian mengikuti proses belajar-mengajar dan sibuk mengerjakan PR yang banyaknya nyaris menyamai air di lautan, kelas sebelas IPS 4 tersebut malah sibuk bersenang-senang di sebuah tempat yang setidaknya bisa menghindarkan mereka dari tugas selama tiga hari. Dan lebih lagi, pada hari studi wisata itu, kelas mereka akan mengadakan ulangan Bahasa Indonesia, dan tentu saja karena adanya perjalanan ini ulangan tersebut akan dibatalkan atau setidaknya ditunda sampai mereka kembali.

Setidaknya begitulah menurut pikiran mereka, sampai sebuah ucapan tersangkut di telinga mereka.

“Setelah studi wisata itu berakhir, kalian harus membuat laporan perjalanan sebagai pengganti ulangan Bahasa Indonesia yang dibatalkan,” sela sang Wali Kelas mengingatkan, membuat teriakan kebahagian yang sebelumnya terdengar, berganti dengan cepat menjadi sebuah teriakan protes yang tak terkendali.

Dan suara keluhan pun terdengar di sana-sini, bersahut-sahutan satu sama lain.

“Yaaah, ini kan hadiah, kenapa harus ada tugas?” protes pertama dari suara tak dikenal mendominasi ruangan. Usut punya usut, ternyata sang Ketua Kelaslah yang melontarkan protes ini.

“Iya, benar. Lagi pula sejak kapan liburan didampingi dengan tugas?” sahut suara lain menyetujui pemberontakan yang dilakukan oleh Ketua Kelas.

“Ibu tega sekali. Jangan beri kami tugas!!” protes yang lain ikut-ikutan, membuat suasana kelas menjadi semakin ribut dan tak terkendali.

“Kalau kalian tidak setuju, jangan harap akan ada studi wisata!” ancam sang wali kelas, mengambil jalan tengah yang paling ampuh untuk membuat mereka semua bungkam.

Sesuai prediksi, teriakan protes yang memekakkan telinga lenyap dalam hitungan detik, membuat kelas itu menjadi tenang seketika.

“Ehem, ehem. Hanya laporan perjalanan? Itu sih kecil. Sudahlah lakukan saja, tak perlu protes,” deham si Ketua Kelas tak tahu malu, melupakan fakta bahwa beberapa detik yang lalu dialah dalang utama dari protes-protes di kelas itu.

“Huuuuuuu!!!!” sorakan jengkel seketika terarah dan membuat tuli kedua telinga sang Ketua Kelas.
           

***

            Jam istirahat baru saja dimulai beberapa menit yang lalu, dan tentu saja seluruh siswa tidak mau menyia-nyiakan waktu istirahat yang begitu singkat dan berharga itu untuk membaca buku atau mengulas kembali pelajaran yang telah diberikan.

            Satu tempat pasti yang menjadi tujuan utama seluruh siswa itu adalah kantin. Anehnya, kantin bagi mereka bukan hanya sekedar tempat untuk mengisi perut, melainkan juga tempat bergosip dan tempat berbincang yang paling strategis.

            Dan tentu saja empat serangkai yang terlihat selalu bersama itu juga termasuk diantaranya.

“Alma, kamu akan ikut studi wisata itu, kan?” tanya Gladis antusias.

“Tentu saja. Sudah lama aku ingin pergi bersama kalian bertiga,” sahut gadis yang dipanggil Alma itu dengan pasti, melupakan kenyataan bahwa dia bahkan belum meminta izin dari orangtuanya sama sekali.

“Alma yang cantik, sepertinya pikun akutmu itu kambuh lagi. Kamu itu anak satu-satunya, apa kau pikir orangtuamu akan memberimu izin, hah?” sela Dinyka mengingatkan.

“Ah benar. Kenapa aku bisa lupa?” ucap gadis itu sambil menepuk jidatnya. Sendok nasi yang hendak disuapnya gagal masuk ke dalam mulutnya dan  terhenti di udara.

“Bagaimana ini? Gagal sudah rencana yang sudah kususun untuk bersenang senang disana,” keluh Alma lesu. Mendadak saja nasi putih dan ayam bakar kesukaannya tak lagi menarik untuk disantap. Gadis itu kehilangan selera makannya dalam sekejap.

Masalah inilah yang terkadang membuat gadis itu sedikit kesal terhadap orangtuanya. Karena Alma merupakan anak satu-satunya, orangtuanya selalu bersikap berlebihan jika menyangkut keselamatannya. Alma tahu bahwa hal itu menandakan bahwa orangtuanya menyayanginya. Tapi karena keprotektifan orangtuanya itu, Alma tak pernah diizinkan untuk pergi bersama teman-temannya. Sejak SD hingga saat ini, dia bahkan belum pernah merasakan rasanya berkemah maupun studi wisata. Karena orangtuanya selalu melarangnya untuk ikut pada acara-acara seperti itu.

Lalu sekarang apa yang harus dilakukannya? Dia benar-benar ingin sekali ikut acara studi wisata ini.

“Tenang saja Alma. Kali ini kami akan membantu membujuk orangtuamu agar mengizinkanmu pergi,” hibur Hana menenangkan sambil tersenyum tipis. Gadis anggun ini memang selalu bisa membuat orang lain merasa tenang karena ucapannya.


***

Sepulang sekolah, Alma dan ketiga temannya segera membujuk orangtua Alma agar mengizinkan Alma ikut serta acara pariwisata kali ini.

Akhirnya dengan segala bujukan dan permohonan sedemikian rupa, hati orangtua Alma menjadi luluh dan—meskipun terpakasa—mereka akhirnya memberikan izin pada Alma dengan berat hati.

Setelah mendengarkan nasihat panjang lebar dari orangtuanya, Alma segera berpamitan dan berlari memasuki bus tempat ketiga temannya menunggu.

“Ahhh, untung saja kalian berhasil membujuk orangtuaku. Kalau tidak, aku pasti sedang mengamuk dan mengobrak-abrik kamar tidurku,” ujar Alma penuh rasa syukur ketika dia sudah duduk nyaman di atas bus.

Bus pariwisata yang akan membawa mereka ke tempat tujuan segera melaju menembus jalan raya. Untungnya, semua murid kelas sebelas IPS  4 itu mendapatkan izin dari orangtua mereka.

Salah satu hal yang mengasyikkan pada studi wisata kali ini yaitu, pihak sekolah merahasiakan tempat tujuan dari studi wisata ini. Membuat seluruh siswa itu menjadi penasaran dan bertanya-tanya di dalam hati.

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Betapa terkejutnya mereka ketika sadar bahwa mereka sedang berada di depan sebuah taman bermain yang sangat terkenal yaitu Ancol.

Mereka mendengarkan dengan baik instruksi yang disampaikan oleh guru pembimbing yang menyuruh mereka untuk membuat kelompok yang terdiri dari lima orang. Setiap dari mereka sudah diberikan tiket masuk. Dan mereka semua bebas bermain sampai pukul tiga sore.

Semua murid itu berpencar dan membentuk kelompok masing-masing. Dan sudah pasti empat serangkai itu berada pada kelompok yang sama. Karena satu kelompok harus terdiri dari lima orang, maka mereka memutuskan untuk meminta sang Ketua Kelas bergabung dengan kelompok mereka. Awalnya sang Ketua Kelas menolak, karena ia sudah membuat kelompoknya sendiri, namun akhirnya, dengan berat hati dia setuju untuk bergabung dengan empat serangkai itu.

“Yaaah, karena kalian, gagal sudah rencanaku untuk membuat kelompok dengan Romi dan yang lain,” keluh Ketus Kelas yang sering disapa Achmad itu.

“Sudahlah. Ikhlaskan saja. Lagi pula, memangnya kamu tega membiarkan kami yang perempuan berkeliaran di tempat seluas ini. Kalau kami hilang, pasti kamu yang akan disuruh mencari,” ujar Alma sambil mengibas-ngibaskan tanganya. Dia sebenarnya ingin sekali tertawa melihat wajah Achmad yang terlihat tidak rela menghabiskan waktu liburannya bersama empat serangkai itu.

“Memangnya siapa suruh kalian membuat kelompok isinya perempuan semua?” tanyanya kesal sekaligus heran.

“Yaah, mau bagaimana lagi. Kami kan memang selalu berempat,” jawab Dinyka.

“Ah iya, aku baru sadar. Sejak dulu jika kemana-mana kalian selalu berempat. Seperti diikat dengan borgol saja.”

“Memang benar. Kami ini diikat oleh borgol. Borgol takdir. Hehehe,” canda Gladis. Gladis ini sebenarnya sedikit tomboi. Tapi anehnya diantara mereka berempat dia paling dekat dengan Hana, perempuan paling feminin diantara mereka.

“Ah sudahlah. Kenapa kita malah membahas masalah yang tidak berguna begini? Sekarang kalian mau naik wahana apa?” tanya Achmad, menyadari waktunya terbuang sia-sia hanya untuk berbicara dan berjalan tak tentu arah. Mengingat setiap siswa hanya punya waktu satu jam saja untuk bermain, mereka semua harus menggunakan waktu dengan cermat.

“Hana mau naik apa?” tanya Gladis sambil menoleh ke arah samping.

“Loh? Hana mana?” tanya Gladis panik.

“Bukannya dia sejak tadi berjalan di samping kamu?” tanya Alma ikutan panik.

“Iya. Tapi sekarang Hana dimana? Bagaimana jika dia tersesat,” air mata sudah mulai menggenang di kedua mata Gladis. Dia pasti benar-benar menyayangi Hana, karena Gladis ini jarang sekali menangis.

“Gladis, tenang dulu, jangan menangis,” ucap Dinyka menenangkan ketika Gladis sudah mulai terisak pelan.

“Ayo kita cari dia!” ajak Achmad 

“Ayo!” sahut mereka serempak.

Mereka semua berlari sambil sesekali menolehkan kepala ke kanan dan kiri, berharap menemukan seorang gadis berkulit putih dengan gaun berwarna biru lembut dan rambut panjang tergerai yang dihiasi bando. Namun setelah tiga puluh menit berlalu, mereka belum juga menemukan Hana.

“Hanaaaa!!” teriak Achmad keras ketika dia melihat seseorang yang mirip dengan Hana di bawah batang pohon disamping penjual gelembung.

“Ya ampun Hana, kakimu kenapa?” tanya Gladis cemas.

“Maaf. Tadi kakiku tersandung batu dan terjatuh. Untung saja seseorang menolongku, tapi ketika aku berdiri, kalian semua sudah tidak ada. Maaf, kalian semua pasti cemas sekali ya?” ujar Hana merasa tak enak.

“Sudahlah tidak apa-apa. Yang penting kamu baik-baik saja,” hibur Dinyka.

“Kakimu sudah tidak apa-apa kan? Bagaimana jika kita mencoba beberapa wahana? Waktu kita tinggal dua puluh menit lagi,” ajak Achmad, membuat ketiga perempuan itu melancarkan protes.

“Bagaimana bisa empat puluh menit berlalu begitu cepat?” tanya Alma tak habis pikir.

“Iya benar. Aku merasa kita baru menghabiskan waktu dua puluh menit,” ucap Gladis setuju.

“Arlojimu pasti rusak,” tuduh Dinyka.

“Tidak. Waktu kita benar-benar tinggal dua puluh menit lagi. Lihat,” sela Hana sambil menunjukkan layar ponselnya.

“Nah, lihatkan? Sekarang apa yang ingin kalian katakan? Ayo katakan,” tantang Achmad sedikit jengkel.

“Diny, kita coba naik kincir, yuk?” ajak Alma berusaha melarikan diri dari pelototan tajam yang diberikan sang Ketua Kelas.

“Hey, jangan melarikan diri kamu.”

“Aku tidak melarikan diri. Bukankah kamu sendiri yang bilang, waktu kita tinggal dua puluh menit lagi,” elak Alma mencari alasan.

“Huh dasar. Ya sudah, ayo.”

Setelah mencoba lima wahana, mereka berlima segera kembali ke tempat yang sudah di tentukan dan kembali masuk kedalam bus.

Ibu guru memberitahu mereka bahwa selanjutnya mereka akan kembali ke hotel untuk melaksanakan shalat ashar terlebih dahulu, lalu beristirahat, dan makan malam. Dan dari setelah makan malam sampai jam sembilan malam, semua siswa bebas melakukan kegiatan apa saja, asalkan masih tetap di lingkungan hotel.

Pagi hari berikutnya, semua siswa kelas sebelas IPS 4 bangun dalam keadaan segar bugar. Setelah sarapan, mereka bersiap-siap untuk perjalanan yang selanjutnya.

 Sebenarnya jadwal mereka hari ini adalah pergi ke Ancol lagi, tapi karena hujan turun, perjalanan ke Ancol dibatalkan dan mereka memutuskan untuk berkeliling Jakarta saja. Namun baru tiga puluh menit mereka berada di atas bus, mereka langsung merasa menyesal untuk keliling Jakarta. Bukan karena tidak ada hal menarik untuk dilihat, namun lebih pada satu alasan jelas yang membuat mereka semua merasa jenuh, yaitu macet.

Ternyata berita macet yang diberitakan di televisi itu bukan hanya sekedar isu, namun kenyataan. Mereka bahkan menghabiskan waktu seharian hanya untuk mencapai restoran tempat mereka akan menyantap makan siang.

Setelah mengisi perut mereka memutuskan untuk mengunjungi Monas. Ternyata di sekitar Monas banyak sekali alat transportasi Bendi berkeliaran. Karena melihat kuda pada Bendi itu, salah seoarang diantara mereka mengusulkan untuk pergi ke kebun binatang. Dan begitulah mereka akhirnya mengunjungi Taman Safari dan menghabiskan waktu disana.

Keesokan harinya setelah sarapan dan berkemas, mereka segera bersiap-siap berangkat kembali ke kota mereka. Sambil menunggu teman-teman yang lain bersiap-siap, empat serangkai itu meminta tolong kepada Ketua Kelas, untuk memoto mereka di depan sebuah monumen yang berbentuk seperti mesin.




Ibu adalah Ibu





Ibu adalah Ibu
Selayang pikiran seorang fans berat Ibu: Suci Fitriani



Ibu itu seperti guru, yang tak pernah berhenti untuk mendidik.
Ibu itu seperti tisu, yang sanggup menghampus air mata di waktu duka.
Ibu itu seperti obat, yang mampu menyembuhkan semua luka.

Ibu itu seperti angin, yang mampu menyapu takut di saat resah.
Ibu itu seperti diary, yang selalu terbuka lebar untuk segala kisah.
Ibu itu seperti kursi, yang dengan setia menopang di kala lelah.
Ibu seperti lantunan melodi, yang dapat dengan mudah menghalau marah.
Ibu itu seperti para pejuang, yang tak mengenal kata menyerah.

Ibu bukan wanita lemah yang akan berkata “Selamatkan nyawaku.”
Tapi ibu adalah malaikat yang akan selalu berkata “Selamatkan anakku.”

Namun meskipun Ibu sering diibaratkan seperti itu,
Ibu bukanlah guru, bukan seorang pejuang, bukan selembar tisu, bukan juga sebutir obat,  ataupun sebaris diary.
Ibu bukanlah segelintir angin, bukan sebuah kursi, bukan juga lantunan melodi, dan bukan pula sesosok malaikat bersayap.

Ibu adalah ibu.
Seorang wanita biasa, yang selalu tampak luar biasa.
Seorang wanita biasa, yang dapat merubah banyak hal menjadi tidak biasa.
Seorang wanita biasa, yang dapat menjadi apapun,
Apapun yang kita butuhkan.
Layaknya pohon tempat bersandar.
Layaknya sahabat tempat mengadu.
Dan layaknya rumah tempat berlindung.

Namun ibu bukanlah benda-benda itu.
Ibu jauh... jauh lebih berharga dari seluruh benda-benda itu.
Ibu adalah ibu, dan akan selalu menjadi ibu.

Wanita terhebat sepanjang masa, yang pernah tercipta di atas dunia.


Jumat, 04 April 2014

Kisah Pendeta Taat Ibadah yang Terjerumus Hasutan Syaitan





Alkisah di zaman dahulu ada seorang pendeta yang bernama Bashisha, ia dikenal sebagai ahli ibadah yang tidak mengenal lelah. Ia gemar sekali melakukan ibadah tanpa putus-putus, seluruh waktunya tercurahkan hanya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Disamping itu, ia juga dikenal sebagai orang yang baik dan terpuji oleh masyarakatnya. Banyak sekali orang yang datang kepadanya sekedar meminta petuah atau meminta tolong agar terbebas dari kesusahan yang di deritanya. Karena memang konon orang suci seperti Bashisha, banyak mendapat karomah yang dapat digunakan untuk kebaikan sesama.

Namun syaitan adalah makhluk yang paling benci pada orang yang melakukan rukuk sujud. Melihat itu hati syitan atau iblis pun menjadi mendidih. Segala upaya kemudian dilakukan untuk menggoda sang pendeta, tapi sang pendeta tetap bertahan dengan ketaatannya, ia tetap melakukan ibadah siang malam tak henti-henti.

Syaitan pertama telah jemu merayu, syaitan kedua pun dibuat frustasi dan putus asa sebab bujuk rayunya tidak mempan. Di susul kemudian syaitan yang ketiga, empat dan lima, namun kesemua hasilnya tetap nihil. Syaitan-syaitan yang gagal tersebut lantas berkumpul dan melaporkan hasil usahanya pada sang pemimpin syaitan. Berdasakan laporan tersebut, sang raja syaitan semakin tertantang dan penasaran, maka ia membuat instruksi tegas pada perserikatan syaitan itu untuk tetap membujuk dan menggoda Bashisha.

Kemudian rombongan syaitan berkumpul dan bermusyawarah untuk mencari tahu lebih dulu kelemahan Bashisha. Namun, hal itu tidak juga dapat segera diketahui. Pendeta yang satu ini sangat teguh pendirian, sulit dirayu maupun digoda. Bashisha pun tetap beribadah tekun dan tetap berserah diri pada Allah dengan ikhlas.

Pada suatu hari terdapat empat orang bersaudara yang tinggal tak jauh dari tempat tinggal Bashisha. Empat bersaudara tersebut terdiri atas tiga orang laki-laki dan satu perempuan. Suatu saat ketiga laki-laki tersebut mendapat panggilan untuk mengikuti jihad fisablilillah. Dan ketiganya merasa terpanggil untuk berangkat ke medan laga. Persoalan timbul ; Bagaimana dengan adik perempuan mereka satu-satunya itu?

Akhirnya ketiga laki-laki ini bermufakat untuk menitipkan saudara perempuan yang satu-satunya itu kepada pendeta suci Bashisha. Berangkatlah mereka bertiga menemui Bashisha di kediamannya. Awalnya sang pendeta menolak untuk dititipi sang gadis. Namun, karena kebaikan dan ke-ikhlasannya dalam membantu orang lain, akhirnya sang pendeta setuju.

Awalnya, Bashisha memang tidak mempunyai perasaan apa-apa pada sang gadis kecuali keikhlasan untuk menolong saja. Ia pun tetap menjalankan rutinitas ibadahnya dengan tekun, sambil menjaga gadis itu. Bashisha senantiasa menjaga dan mengawasi gadis itu dari dalam rumahnya, sementara si gadis di tempatkan di kuil kecil yang berdekatan dengan kuilnya.

Rombongan syaitan mulai mencium keadaan ini. Mereka kembali bersemangat untuk menggoda dan merayu Bashisha. Akan tetapi, bujukan dan rayuan tersebut untuk sementara dapat dengan mudah di tangkis oleh sang pendeta, sehingga syaitan-syaitan tersebut menjadi jengkel dan kewalahan.

Tapi memang sudah menjadi sifat syaitan tidak mau kalah, mereka melakukan serangan dari berbagai sudut dan menggunakan beribu cara. Kali ini mereka datang bukan dengan bujukan langsung, melainkan dengan bujukan halus seolah menunjukkan pada sang pendeta tentang rasa tanggung jawab yang besar.
Mula-mula ia membisikkan pada pendeta untuk melihat gadis itu. Dengan alasan sebagai tanggung jawab karena sudah di titipi amanat. Bujukan syaitan itu akhirnya memenuhi rongga dada sang pendeta. Kemudian pendeta tersebut segera pergi ke kuil kecil tempat gadis itu berada.

Ketika pintu dibuka oleh si gadis, seketika terteraplah pandangan keduanya. Keduanya tanpa sadar saling berpandangan. Sejak saat itu, pendeta Bashisha menjadi sulit untuk melupakan wajah si gadis. Memang saat itu pendeta dengan cepat meninggalkan kuil kecil tersebut dengan maksud untuk menghindari tatapan itu lebih lama.

Namun syaitan memang licik, ia terus menerus membisikkan tentang kecantikkan dan keelokan gadis tersebut. Hingga tiap malam sang pendeta menjadi sulit tidur bukan karena berdo'a kepada Allah, namun dikarenakan melamun membayangkan wajah si gadis.

Syaitan berteriak gembira karena merasa mendapat celah untuk menggoda sang pendeta. Dia pun kembali membisikkan kepada sang pendeta untuk berbincang-bincang pada si gadis. Hasutan tersebut dengan mudah mempengaruhi sang pendeta.

Saat ini pendeta itu semakin sering berjumpa dan bercakap dengan si gadis. Dan hal itu menumbuhkan rasa cinta di antara keduanya. Mereka berdua semakin di kuasai nafsu hingga akhirnya melakukan zina. Akibat perbuatan itu sang gadis menjadi hamil dan kemudian melahirkan seorang bayi.

Dan setan pun kembali membisikkan rasa takut dalam dada sang pendeta. Bagaimana jika ketiga saudara si gadis kembali dari jihad fisabilillah. Sang pendeta menjadi ketakutan akan hal itu. Pendeta Bashisha di bujuk untuk membunuh wanita itu. Dan jika tiga bersaudara itu bertanya dimana adiknya, syaitan menyuruh sang pendeta untuk mengatakan bahwa wanita itu sudah mati. Syaitan bahkan meyakinkan sang pendeta bahwa tiga bersaudara itu pasti akan mempercayai ucapan sang pendeta karena pendeta itu adalah orang terpecaya.

Tanpa pikir panjang, pendeta itu pun membunuh wanita itu beserta bayinya. Lantas mayatnya dikubur dalam sebuah lubang yang di tutup dengan batu. Untuk sesaat pendeta tersebut merasa lega.

Dugaan pendeta ternyata benar. Setelah jihad fisabilillah usai, tiga pemuda tersebut menghadap pendeta untuk menjemput kembali adiknya. Namun, dengan berpura-pura sedih sang pendeta bercerita bahwa saudari perempuan mereka sudah mati menghadap Allah SWT. Ketiga pemuda itu percaya saja ucapan sang pendeta dan menangis sejadi-jadinya sambil mengucapkan "Inallillahi wa ina Ilaihi raji'un." Kemudian ketiga pemuda tersebut pulang dalam perasaan sedih yang mendalam.

Sesampainya di rumah ketiga pemuda itu tidur ditempatnya masing-masing. Tiba-tiba salah seorang pemuda bangun. Ia bermimpi bahwa sang adik ternyata di bunuh oleh pendeta dan dikuburkan di lubang dekat kuil. Ia menceritakan mimpinya kepada saudaranya yang satu, dan saudaranya itu juga bermimpi hal yang sama. Keduanya lalu menceritakan mimpi itu pada saudara yang satunya lagi, dan anehnya saudara itu pun juga mendapatkan mimpi yang sama.

Karena penasaran ketiga pemuda itu segera pergi k elubang dekat kuil seperti yang ada di dalam mimpi mereka. Dan benar saja. Mereka menemukan adik mereka beserta bayinya mati dalam keadaan mengenaskan.

Sementara itu pendeta Bashisha mulai ketakutan karena kedoknya terbongkar, ia berencana untuk bertobat dan memohon ampun kembali kepada Allah. Tapi syaitan kembali menghasut Bashisha, ia memanfaatkan kondisi Bashisha yang sedang panik dan terdesak.

Lalu, karena diiming-imingi bantuan oleh syaitan, Bashisha akhirnya bersedia menjadi pengikut syaitan dan bersujud pada makhluk terkutuk itu.

Begitulah kisah tentang pendeta yang taat itu. Ia yang awalnya taat bisa berubah menjadi pengikut syaitan karena terus di goda dan di hasut. Apalagi kita, yang imannya mungkin masih sebesar biji jagung. Jadi untuk itu sobat Rainers, ayo kita perdalam lagi keimanan kita. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari godaan syaitan yang terkutuk. Amiiin J :D

Selasa, 25 Maret 2014

Wajah Teduh Milik Rayna - Part 6 (END)

PART VI (END)




Some Years Later.


Saat ini aku sudah lulus SMA dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Sudah tiga tahun sejak terakhir kali aku masih mengemban ilmu di sekolah ini. Kini aku rajin sekali mengunjungi SMA ku dulu. Sebuah tempat dimana akhirnya aku berubah menjadi sosok yang lebih baik. Dan ternyata banyak hal yang berubah di SMA ini, mungkin bagiku ini adalah sebuah kejutan.

Pertama, Ibu Risa, wali kelasku dulu, ternyata beliau sudah menikah dan sudah berhijab, beliau juga sudah memiliki anak. Dan kejutan paling membahagiakan adalah, peraturan sekolah sudah berubah, kini seluruh siswi dan guru diwajibkan menggunakan kerudung. Aku senang sekali.

Dan ketika mataku menangkap dua orang siswi berkerudung berjalan beriringan di lapangan sekolah, mendadak pikiranku melayang pada gadis itu. Gadis berhati putih dengan segala kebaikan dan kelembutan yang melekat dalam dirinya serta wajah teduh yang selalu terpatri pada wajah berbingkai kerudung miliknya. Banar. Gadis itu. Rayna.

Aku sering bertukar kabar dengan Rayna. Dia bilang, ayahnya pindah tugas ke daerah Jawa. Jadi dia juga harus melanjutkan kuliah di sana. Dan ternyata dia mendapat beasiswa di UI. Alhamdullillah, aku turut senang mendengarnya.

Saat kelulusan aku menyampaikan ucapan terima kasihku padanya. Kuceritakan semua hal yang membuatku termotivasi untuk berhijab. Dan jawaban yang di berikannya membuatku meneteskan air mata.

Bukan karena kalimat itu begitu mengharukan, bukan juga karena kalimat itu mengandung makna yang dalam. Tapi yang membuatku meneteskan air mata ialah, karena kalimat itu diucapkan dengan begitu tulus, membuatku merasa berat untuk berpisah dengan wanita sebaik Rayna. Dia mengucapkan kalimat itu dengan begitu bijak disertai senyum manis yang memang tak pernah luntur dari wajahnya yang teduh.

“Ini bukan karena Rayna. Tapi karena diri Kayla sendiri yang memang sesungguhnya ingin berhijab. Rayna tahu Kayla gadis yang baik, karena itu Allah segera buka pintu hati Kayla agar segera berhijab. Mungkin Rayna hanya sebagai perantara saja.” Begitulah kalimat yang ia katakan padaku.

Jika diingat-ingat, kini aku sudah berubah 180 derajat. Jika diibaratkan dengan roda, aku yang dulu berada dibawah kini sudah berada diatas. Banyak sekali hal yang berubah seiring melekatnya hijab dalam diriku.

Aku yang dulu selalu tidur lagi selepas shalat subuh, kini bisa melakukan hal yang berguna seperti membaca Al-Qur’an atau buku. Kemudian, aku yang dulu shalat wajib selalu di akhir waktu, kini sudah terbiasa shalat di awal waktu.

Hobiku tetap tak berubah, aku masih suka membaca novel seperti dulu, namun tak seperti dulu yang setiap saat selalu membaca novel, kini aku sudah bisa mengatur waktuku dengan baik. Kapan saatnya membaca novel, dan kapan saatnya mengerjakan kegiatan lain. Dan semua perubahan itu dibantu oleh Rayna.

Suare bel sekolah mengagetkanku dan membuyarkan lamunanku. Aku melihat arloji di tanganku dan  sukses membuatku terkejut. Sudah berapa lama aku melamun? Gawat. Aku harus segera pulang.

Saat aku berjalan keluar pelataran sekolah, di depan taman bunga, disanalah ia berdiri. Dengan buju gamis berwarna biru muda dan kerudung berwarna pink lembut yang bergoyang anggun di tiup angin. Persis seperti pertama kali kami berjumpa.

Ternyata kota besar tempat dia tinggal tak mampu mengubah keteguhan imannya. Aku tahu, kota besar sudah biasa dengan pergaulan bebas dan fashion yang mengumbar aurat, tapi gadis ini masih tetap bertahan dengan keteguhan hijabnya. Hebat.

Dia tersenyum ke arahku dengan senyum biasa yang entah kenapa selalu tampak mempesona. Dan tak lupa wajah teduhnya yang khas itu, yang kurasa akan selalu terukir di wajahnya bahkan sampai dia tua dan maut menjemputnya.

Kini gadis itu sudah tampak lebih dewasa. Dengan kacamata baca yang entah sejak kapan bertengger manis di hidung mancungnya, membuatnya yang memang sudah pintar tampak jauh lebih pintar. Tubuhnya semakin tinggi dengan badan yang sangat ramping. Kulitnya masih sama seperti dulu. Putih.

Dia... gadis itu... malaikatku... Rayna.


***


Setelah pertemuan mengejutkanku dengan Rayna tadi, aku langsung membawanya ke cafe yang cukup terkenal di kota ini. Cafe ini dulu sering kali kukunjungi bersama Rayna. Tapi setelah dia melanjutkan kuliahnya di luar kota, aku jadi sedikit enggan kembali ke cafe ini. Rasanya hampa.

Jadi saat gadis ini kembali aku merasa sangat senang dan satu-satunya tempat mengobrol yang terpikir di kepalaku adalah tempat ini.

“Jadi? Bagaimana kabarmu?” sapaku memulai pembicaraan.

“Alhamdullillah baik. Kayla bagaimana?”

“Kayla? Alhamdullillah baik.”

“Syukurlah kalau begitu.”

“Hei, sejak kapan kamu memakai kacamata?” tanyaku penasaran.

“Hmmmm, sejak kuliah semester lima kalau tidak salah. Rayna terlalu sering membaca buku ditambah tugas kuliah yang mengharuskan mata Rayna menatap komputer sepanjang hari. Kenapa? Aneh ya?”

“Hahahaha. Tidak kok. Kamu terlihat manis.”

“Terima kasih,” ujarnya sambil tersipu.

 “Bagaimana kabar orangtuamu?”

“Mereka baik. Orang tua Kayla bagaimana? Sehat, kan? Abi dan Ummi titip salam buat Kayla dan orangtua Kayla.”

“Oh, kalau ibu sama ayah baik. Iya deh, nanti Kayla sampaikan. Oh ya, Rayna ada urusan apa di sini?”

Dia menghentikan kegiatan makannya sejenak. Lalu menatap wajahku heran.

“Loh? Rayna belum bilang, ya?”

“Bilang apa?”

“Rayna udah wisuda. Sekarang pengen lamar kerja. Jadi Rayna putusin buat kerja di sini aja.”

“Serius? Kok cepat banget?”

“Hahaha. Begitulah. Rayna ikut program semacam exelerasi gitu, jadi cuma kuliah tiga tahun.”

Yah, aku tahu dia pintar. Tapi tak kusangka dia sepintar ini. Hebat sekali.

 “Subhanallah. Kamu pintar sekali,” pujiku.

Dan seperti biasa, setiap pujianku selalu diresponnya dengan ucapan terimakasih atau senyum tipis.

“Kuliah Kayla bagaimana? Sekarang sudah semester berapa?”

“Kuliah? Cukup menyenangkan. Sekarang Kayla semester enam. Jadi selama disini Rayna akan tinggal dimana? Tinggal di rumah Kayla aja yuk? Mau?”

“Hahaha. Nggak bisa gitu dong. Nanti malah ngerepotin orangtua Kayla. Lagi pula Abi udah nyuruh Rayna tinggal di rumah yang lama.”

“Yaaaaah, padahal nggak ngerepotin kok.”

“Terima kasih. Tidak apa-apa kok. Lagi pula, udah lama Rayna pengen hidup mandiri.”

“Oh gitu. Ya udah deh. Oh ya, kamu tahu perubahan di SMA kita dulu, nggak?”

“Wah, kalau itu Rayna beluh tahu. Habis, tadi saat disana, Kayla langsung peluk Rayna, terus nyeret Rayna ke sini,” ucapnya pura-pura cemberut.

“Hehehe maaf. Habisnya Kayla senang banget bisa lihat Rayna lagi.”

“Jadi? Ada perubahan apa?”

“Peraturannya udah berubah loh. Sekarang seluruh siswi dan guru wajib menggunakan kerudung.”

Tangan gadis itu yang hendak menyuapi makanan ke mulutnya berhenti di udara. Menunda makanan itu lebih lama untuk segera di kunyah dan masuk ke dalam perut.

“Serius kamu?” tanyanya kaget.

“Tentu saja serius.”

“Alhamdullillah. Syukurlah kalau begitu.”

“Dan juga, ibu Risa sekarang juga udah...” 

“RAYNA?!” sapa seorang gadis dari arah samping.

“Loh Dina, Rezi, Mirna?”

“Waahh, senangnya bisa ketemu lagi sama Rayna.”

“Loh, kalian udah berhijab?” ucapku dan Rayna serentak.

“Heehehe. Iya. Ternyata hijab menyenangkan,” jawab Mirna sambil cengengesan.

Subhallah, akhirnya teman-teman seperjuanganku ikut berhijab. Dan hal ini pasti karena dukungan dan dorongan yang pernah diberikan Rayna dulu. Gadis ini benar-benar seperti malaikat.

Aku benar-benar bersyukur pada Allah karena sudah mempertemukanku dengan Rayna. Aku pasti akan selalu ingat jasa gadis itu. Jasa yang gadis itu berikan padaku sehingga aku bisa berubah menjadi gadis yang lebih baik. Aku juga takkan bisa melupakan kelembutan dan keanggunan hijab yang ia ajarkan padaku. Serta, takkan pernah kulupakan... wajah teduh berbingkai kerudung... milik Rayna.



END