Tampilkan postingan dengan label Slice of Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Slice of Life. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Oktober 2018

Hidayah Sudah Sejak Dulu Menghampiri




Wahai saudari,
Teruntuk dirimu yang selalu mencari.
Bertanya-bertanya tentang kapan hidayah menghampiri.
Menyalahkan takdir Tuhan atas hidayah yang tak pernah mengunjungi.
Kupersembahkan tulisan ini,
Untuk setidaknya membantumu memahami.

Wahai saudari,
Sebenarnya hidayah datang setiap hari.
Hanya saja dengan cara yang terkadang tak kamu sadari.

Terkadang ia hadir dari lisan para ulama-ulama di telivisi.
Terkadang ia hadir melalui nasehat orang-orang baik hati.
Bahkan terkadang ia juga hadir, dari orang-orang yang tak lagi kenal siapa diri.
Tapi sayang, kamu tak menyadari,
Atau bahkan tak peduli sama sekali.

Terkadang ia datang dari buku-buku yang kamu baca setiap hari.
Terkadang ia datang dari tulisan-tulisan memotivasi.
Atau terkadang ia datang dari cerita-cerita yang menginspirasi.
Tapi lagi-lagi, kamu tak menyadari,
Dan kembali tak peduli.

Wahai saudari,
Pernahkah kamu memahami,
Bahwa hidayah terbesar nyatanya sudah kamu miliki.
Bahwa hidayah terbesar sudah sejak dulu menghampiri.
Namun ia tertutup rapi.
Karena sudah lama tak dibuka lagi.
Atau bahkan tak pernah dibuka sama sekali.

Ia berdiam diri.
Di tiap-tiap sudut lemari.
Di bagian teratas rak-rak tertinggi.

Wahai saudari,
Jangan sekali-kali kau mengingkari.
Menghardik dan menghakimi.
Apalagi menyalahkan Allah Yang Baik Hati.
Menyalahkan-Nya atas hidayah yang tak kunjung kamu resapi.
Meragukan-Nya atas hidayah yang tak kunjung kamu sadari.
Mempertanyakan-Nya atas hidayah yang kamu abaikan setiap hari.

Wahai saudari,
Hidayah tak pernah memilih siapa yang dia sukai.
Tak pernah pilih kasih ketika menghampiri.
Hidayah tak pernah pergi.
Apalagi melarikan diri.

Karena itu wahai saudari,
Cobalah untuk lebih peduli.
Cobalah untuk lebih memekakan diri.
Barangkali detik ini dia kembali menghampiri.
Mengetuk pintu hati melalui tulisan ini.

Jika kamu kembali berpura-pura tuli,
Maka sekali lagi,
Kamu akan mengusirnya pergi tanpa kamu sadari.
Kamu akan tetap tak menyadari.
Bahwa sebenarnya ia sudah menghampiri,
Namun tak kamu sambut dengan sepenuh hati.


Senin, 04 Juni 2018

Tentang Warna




Kali ini aku ingin bercerita tentang warna. Kenapa warna? Hmm, entahlah. Hanya saja warna tampaknya mampu menjadi topik menarik untuk diceritakan. Biasanya, para psikolog bahkan menjadikan warna kesukaan sebagai salah satu penilaian kepribadian seseorang. Tidak tahu itu akurat atau tidak. Sebab nyatanya, ada bermiliar-miliar manusia di atas dunia, namun hanya ada sekitar puluhan warna yang tersedia di atas dunia. Perbandingan yang terlalu besar bukan? Mana mungkin kepribadian miliaran manusia dapat dirangkap hanya oleh puluhan warna.
Lalu kenapa kali ini kita berbicara tentang warna? Karena... sesekali kita perlu melihat, bahwa nyatanya Allah ciptakan kita berbeda satu sama lainnya. Dan tiap-tiap kita memiliki warna yang berbeda pula. Dan warna, seperti halnya manusia, akan terlihat indah jika berjamaah, berkumpul bersama-sama.
Aku menyukai warna putih. Kenapa? Karena warna itu merefleksikan namaku kah? Karena warna itu adalah warna bunga lili calla, bunga favoritku kah? Atau karena putih adalah warna awan, warna yang selalu saja tampak menarik di mataku ketika bersanding dengan luasnya langit biru? Jawabannya, aku tidak tahu. Aku hanya menyukai warna itu. Warna yang selalu saja cocok ketika bersanding dengan warna lainnya. Mudah berbaur. Meskipun hitam juga memiliki sifat itu dan lebih ahli dalam bidang itu. Namun putih tidak keras kepala seperti hitam. Putih bisa menerima warna lainnya, dia mampu berbaur, tanpa harus menghilangkan jadi dirinya dan jati diri warna yang ikut berbaur bersamanya. Mereka terkadang bahkan bisa menciptakan warna baru yang lebih indah ketika bersama-sama. Berbeda dengan hitam yang kerap kali mendominasi ketika ia berbaur dengan warna lainnya. Tapi jangan salah, kamu harus tahu bahwa ada yang istimewa dengan hitam. Terlebih jika ia bersanding dengan putih. Kamu pikir bintang-bintang akan terlihat seindah itu jika ia tidak bergelantungan di langit malam yang kelam? Pernah dengar istilah “Semakin gelap langit, semakin bercahaya pula bintang terlihat”? Begitulah hebatnya hitam.
Intinya, warna apapun yang dirimu suka, jangan pernah menghina atau merendahkan warna lainnya, apalagi hingga merasa bahwa warna milikmulah warna yang paling sempurna. Karena setiap warna memiliki kelebihan dan kekurangannya. Tergantung oleh mata mana yang menatap dan menilainya. Kamu tak perlu mengklaim bahwa warnamu adalah warna yang paling menarik yang pernah ada. Sebab, orang-orang memandang dengan sepasang mata yang berbeda, dan tentu dengan cara yang tak pula sama. Kamu juga tak perlu bersikeras bahwa warnamu adalah warna yang paling indah. Karena justru warna-warna akan terlihat lebih indah ketika dia bersama dengan warna lainnya. Putih akan terlihat monoton jika warna lain tidak membersamainnya. Hitam akan terlihat menyeramkan jika tidak bersanding dengan warna lainnya. Dan warna lainnya akan terlihat membosankan jika selalu berkumpul dengan warna yang hanya serupa dengan diri mereka. Coba bayangkan, jika seluruh isi lemarimu adalah ungu. Coba bayangkan jika seluruh isi rumahmu adalah biru. Atau sekali lagi, coba bayangkan jika seluruh isi dunia adalah abu-abu. Tentu tidak akan menarik bukan? Tidak ada variasi, tidak ada gradisi. Tidak menarik sama sekali.
Lihat saja warna pelangi, bukankah ia terlihat indah, karena mereka bersama-sama?
Karena nyatanya, bukan hanya satu warna yang membuat pelangi menjadi indah, namun perpaduan dan kebersamaan berbagai warnalah yang membuatnya terlihat menakjubkan.
Dan kamu juga harus mengerti bahwa perpaduan dalam penciptaan warna memiliki aturannya. Hijau hanya bisa di dapat dengan perpaduan biru dan kuning. Oren baru bisa dibentuk oleh perpaduan merah dan kuning. Semua memiliki aturan. Kamu tidak bisa mencampurkan sembarang warna. Karena akan terjadi kesahalan fatal. Warna yang kamu ciptakan bisa saja terlihat mengerikan.
Inilah poin yang ingin kusampaikan. Bahwa manusia setidaknya harus mampu belajar dari warna. Tiap manusia memiliki warna mereka masing-masing. Tak ada yang sempurna. Semua memiliki kekurangan dan kelebihannya. Tapi ketika mereka berjamaah, membentuk kekeluargaan bersama-sama, dan mengikuti aturan yang sudah Allah tentukan, mereka bisa menciptakan warna-warna baru dan pelangi paling menawan yang pernah ada. Percayalah.



Rabu, 30 Mei 2018

A Leader Should Be


A Leader Should Be



Yesterday, I accidentally saw a new article on my mother’s phone. The article told about a minister's displeasure over Jakarta representative's criticism, Sandiaga Uno, against our President, Mr. Joko Widodo. The minister said that it is inappropriate for a deputy governor to issue such a statement about the president. Then I think, what's wrong with us to criticizing the leader, if there are still people who criticize the leader, it is mean that people still thinking, not blind, and still smart. If you won’t to be criticized, so don’t be a leader.

Then, why that criticism was blasphemous, and the esteemed netizens instead defended a leader who was obviously guilty? Are they do not thinking? Just be honest and admit that our current leader do make mistake indeed.

After saw that article, I red another article, and again, make me feel upset. The article reported about the salary of Megawati Sukarnoputri as chairman of the board of the Pancasila Ideology Development Board (BPIP), which has an outstanding nominal, Rp.112.548.000/month. It is only the chairman, how about the others? A member of the Steering Committee receives a financial right of Rp 100,811,000. Head of BPIP get financial rights Rp 76.500.000. Deputy Head of BPIP get financial rights Rp 63.750.000. BPIP deputy obtained financial rights Rp 51,000,000. Special Staff of BPIP get financial rights Rp 36.500.000. Very fantastis, isn’t it? Taxes paid by the people with difficulty, even allocated to fill the pockets of officials who even work is not felt at all benefit by all the people. Just be honest, what is that agency’s actual use? Is it really more important than our nation goal of prospering the people?

Then, what is the respond of Mr. President? Well, he just mentioned that the salary is in accordance with the applicable provisions. He mentioned about the NEW rules that is Presidential Regulation No.7 of 2018, which was recently issued on May 23, 2018.

It is only member’s salary of BPIP, not include MPR, President, DPR, Ministry and the others, who certainly also have a large salary. Can you imagine? The taxes that people paid with tears and blood is to fill up the pockets of them, while they do not care about the people at all. See this fact makes me want to cry.



If Mr. President is  smart or at least has a good heart, he will be thinking that the money will be better if we use to the people. Or maybe to pay our huge debt that more growing everyday. Maybe he need to be showed a list of commoners in this country, so  he will knows that the poor people in this country is still very much. And I believed if that commoners know about this very huge salary, I’m pretty sure that their hearts will scream with incredibly painful wounds.

And worse, the leaders who said that they are represented the people and sat in the chair of the DPR and the minister was not willing to cut his salary. I wondered, if the purpose they were sitting on that chair was not for the people anymore, but to receive a high monthly salary.

This reminds me of the story of Khalifah Umar bin Khatab's, who was carried a sack of wheat in his back, the only supply he had when he saw that a mother was cooking stones for her child. Umar is afraid if later Allah ask his responsibility about his leadership. He is afraid to Allah. And that is what leaders should be. Afraid to Allah.

And believe me, Mr. President and the others who are the leaders in this world will be held accountable one day, in a desert, in front all of the people, on a day when there is no doubt about it. And at that time, Allah will ask them for their leadership during their tenure. And ask them about the cries of the people they once ignored.











Kamis, 08 Februari 2018

Essay : The Problem of Bullying in Indonesia




The Problem of Bullying in Indonesia
Currently, bullying becomes a common problem that occurs in the social life of Indonesian society. Because many people think that bullying is a common problem and does not need special attention. Even often the people of Indonesia do not realize that bullying is happening around them. This problem make Indonesia become one of country with the highest number of bullying in the world.
Bullying is the use of force, threat, or coercion to abuse, intimidate, or aggresively dominate to others (Wikipedia). Rasionalization of such behavior sometimes include differences of social class, race, religion, gender, appearance, behavior, body language,  personality, reputation, lineage, strength, size or ability. Someone who are bullied can feel like they are different, powerless, unpopular, and alone. This case can make them sad, lonely, nervous, and have problem in social life.
According to Wikipedia.org, bullying is devided into four basic types of abuse; physical, verbal, relational, and cyber. Based on number of commits, bullying also can divided into two forms; individual bullying and collective bullying.
First is Physical bullying. Physical bullying is violence directly against the victim's body. For example, hitting, stealing, kick, pushing, and others. In physical bullying the main weapon is their body. It can be danger because can lead into tragedic ending like death. But unfortunately, this bullying is often happen in Indonesia. The Indonesian Child Protection Commission (KPAI) released data on child abuse rates according to the International Center for Research on Women (ICRW) survey, as many as 84 percent of children in Indonesia experience violence in schools. The number of cases of violence in schools in Indonesia is higher than Vietnam (79 percent), Nepal (79 percent), Cambodia (73 percent), and Pakistan (43 percent).
Second is verbal bullying. Verbal bullying is bullying which is done indirectly by using voice as an attack weapon. According to a psychologist named Andrew Mellor, verbal bullying involves a verbal language that aims to hurt a person's feeling. Behaviors that include, among other things: mocking, giving inappropriate nicknames, slandering, harassing sexual claims, and others. Cases of bullying verbal include the kind of bullying that often occurs in everyday life but is often not realized. In Indonesia, verbal bullying often occurs in elementary school. In 2010, a student aged 14 years old kill her self because her friends always tease her fat. And few years before, a 15 years old student also did the same thing because his friends tease him falling a grade. For other concrete evidence, bullying that experienced by my young sister. She said that her friend in school often mocking other friends by using the names of parents, shape of body and threatening. See? Even in the elementary school, bullying can exist as well.
Next is relational bullying. Relational bullying also often called as social bullying. Relational bullying is done by the intend to destroy someone's reputation and keep it away from social life. This type of bullying is usually common in girl. Different from physical and verbal bullying, relational bullying is usually done in a longer period of time. I have been a witness of this bullying. When I am in elementary school, I have a friend that get this type of bullying. My classmates keep away from her because he has so many fleas. She often do so many things alone. Such as study, go to the canteen, and go back home. Finally, in the next year, I have received news that she had moved to school.
Then, Cyber bullying. Cyber bullying is bullying that happens online or through text message, email, and others social media. It includes posting rumors on site like facebook, sharing pictures or embrassing video, terrorizing through a social media account, and so on. Cyber bullying is occurs in the modern era. In Indonesia, cyber bullying is usually done by giving negative comments, beatings in a discussion online, and spreading embrassing photo or video. According to Tribun Jogja, our Social Minister, Khofifah Indah Parawansa, said that in 2016 there are a total of 3580 events of bullying and 14 percent of them are cyber bullying.
Based on Tribunpekanbaru.com, the cases of bullying or violence against children in Indonesian school is currently the second largest ranking after Japan. While US is in third position under Indonesia.
According to CNN Indonesia, Director of Social Rehabilitation of Children Social Ministry, Nahar, said that this year they receive more bullying reports than last year. He said that until June 2017 they has received 117 cases of bullying. Meanwhile, Commissioner of Commission for Child Protection of Indonesia (KPAI), Jasa Putra explained, since 2011 until 2016 it has found about 23 thousand cases of physical and psychological violence against children. However, specifically for bullying, there are about 253 cases recorded. This number consists of 122 children who become victims and 131 children who become perpetrators.
The data above shows that problem of bullying in Indonesia need much special attention, because the cases of bullying become high and higher everyday. There are so many children that become victim for this case. Some of them were hospitalized due to injuries. Some of them need a long rehabilitation period. And some of them even decide to end their lives. This is happens because our ignorence of the environtment and our attitude that often assume that this is just a common little problem. It turns out, that it was not the subject of bullying that has caused many children lay in the hospital. Not the subject of bullying that causes many children die. But we, we who have been so indifferent to the surrounding.
Therefore, let’s change. Let’s change into a more courageous and care person. Do not let any bullying arround us. Approach and encourage the victims. Because they are just like us. They also deserve to be happy.

Sabtu, 06 Mei 2017

She is Not Alone. Definitely Not.





6 Mei 2017
23.16 WIB

Gadis itu berada di titik terendah.
Setelah dengan kemampuan yang tersisa dia mencoba,
Dan berakhir dengan kecewa.

Semuanya berputar dalam kepala kecilnya.
Segala kejadian.
Segala kegagalan,
Yang kemudian disusul dengan hantaman rasa bersalah.
Yang datang menusuknya tanpa belas kasihan.
Kemudian segalanya bertambah parah.
Ketika keadaannya memburuk.
Membuatnya tak bisa bergerak dan hanya terbaring diam di atas tempat tidur.
Membuatnya kembali... menjadi gadis yang tak berdaya.

Ini semua mulai memuakkan.
Dia ingin menangis dan menceritakan segalanya pada seseorang.
Atau siapapun.
Siapapun yang dirasanya cukup aman untuk diberitahu tentang ceritanya yang menyakitkan.
Tuhan adalah jawaban yang tepat yang dia butuhkan.
Namun lagi-lagi, keadaan menikamnya. Dengan tega berkhianat pada dirinya.

Keadaannya begitu ambigu dan memusingkan.
Ketika dunia berkhianat dan dengan tega mencampakkannya,
Dia tahu dia hanya punya satu tujuan.
Tuhan. Allah-nya.
Tapi lihatlah. Dia tidak bisa. Benar-benar tidak bisa.
Keadaanya tidak cukup pantas untuk bertemu Tuhan sekarang.
Jadi dia menahan tangisnya.
Mencoba sekali lagi menguatkan dirinya.
Nanti, saat keadaannya sudah cukup pantas untuk mengadu pada Allah-nya,
Dia akan menumpahkan segalanya.

Saat ini biarlah kelopak matanya berjuang.
Menahan keras butiran hujan yang hendak mendatangkan badai di wajahnya.
Mungkin tidak begitu sulit.
Jika dia tidak sendirian.
Dan dia memang tidak sendirian.
Ada “Allah-nya” yang menemani.


She’s not alone. Definitely not.


Selasa, 14 Februari 2017

Cerpen - Gadis Bermata Biru dan Lantunan Amanda





Assalamu'alaikum Rainers ^.^
Selamat minikmati sore penuh hujaann ^.^
Ahh, hujan memang selalu yang terbaik~~

Sore ini saya mau share sebuah cerpen yang saya buat ketika kelas 3 SMA. Sebenarnya kaget juga, sebab saya pikir cerpen ini udah saya masukin ke blog, eh nyatanya belum ._.

Sebenarnya, ini semua dimulai ketika saya sedang mengedit sebuah cerpen karya adik kelas saya di SMA. Dan ketika selesai mengedit, tiba-tiba saya jadi pengen buat cerpen juga, trus saya ingat, blog saya udah lama ditinggalin, udah bedebu plus banyak sarang laba-laba jadinya :D hahaha
Dan ketika saya bongkar-bongkar file cerpen di laptop, saya nemu deh ini cerpen.

Dan inilah dia, cerpen yang terlupakan.. hahaha..

Selamat membaca~



Gadis Bermata Biru dan Lantunan Amanda


Amanda berusaha kerasa menahan air matanya yang mendesak keluar. Kenyataan yang baru saja disampaikan oleh orangtuanya seakan menjadi kiamat kecil untuknya.

Ummi menyentuh pundak Amanda pelan, merasa cemas dengan keadaan putri satu-satunya itu. Amanda tersenyum, kembali berusaha menghalau air matanya yang berdesakan. Benar. Umminyalah alasan kenapa dia berusaha mati-matian menahan air matanya seperti ini. Sebab dia tidak boleh membuat ibunya merasa khawatir.

“Ummi minta maaf ya, Nak,” ujar Ummi. Merasa bersalah karena telah membuat sedih putri kesayangannya itu.

“Iya. Nggak apa-apa kok, Mi. Manda ngerti,” sahut Amanda.

Beberapa saat yang lalu, Abi dan Umminya menyampaikan bahwa mereka bertiga akan pindah ke Amerika. Abi bilang sudah saatnya untuk mencoba berdakwah di sana. Memang, akhir-akhir ini Abi sibuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain untuk menyebarkan agama islam. Dan dari dulu Abi gatal sekali ingin menyebarkan islam di negara berkomunitas Yahudi itu. Tapi Abi tidak bisa melakukannya karena beberapa alasan. Dan sekarang saat harapan itu terwujud, Amanda tidak mungkin bersikap egois dan menolak berita yang disampaikan Abi dengan penuh semangat itu. Penolakannya pasti akan membuat Abi sangat sedih. Ini impian Abi. Dan dia tidak boleh menghancurkannya.

.Tapi sayangnya, sebesar apapun dia berusaha, dia tetap tidak bisa menghalau kecemasan yang membayangi hatinya. Sebab, kenyataan bahwa dia menggunakan kerudung, pasti akan menimbulkan banyak pusat perhatian di sana. Belum lagi serentetan aktivitas yang pastinya benar-benar berbeda dengan budaya yang ada di sana.

***

Ternyata dugaan Amanda benar. Di sekolah barunya, dia tidak hanya menjadi pusat perhatian, tapi juga bahan ejekkan. Nyaris seluruh waktunya dia habiskan hanya untuk mendengar segala cercaan.

Pernah suatu hari, ketika guru di kelasnya berhalangan masuk, Amanda memilih untuk membaca Al-Qur’an. Tapi justru amal ibadahnya itu malah nyaris menimbulkan konflik yang cukup besar di kelasnya.

“Hei, anak baru. Bisa diam nggak? Berisik tau!” bentak seorang anak laki-laki berambut pirang.

Amanda terdiam. Ya Allah, padahal dia sudah mengaji dengan suara amat pelan. Nyaris menyerupai tiupan angin. Jadi bagaimana bisa anak laki-laki ini mengatakan bahwa dia berisik, sedangkan kondisi kelas jauh lebih mengkhawatirkan ributnya dibandingkan suaranya yang sekecil bisikan.

“Tapi kan suaraku nggak begitu keras,” ujar Amanda pelan, berusaha membela diri.

“Siapa bilang? Suara kamu itu ganggu kami semua. Suara kamu jelek banget lagi,” bantah anak laki-laki itu tak berperasaan.

“Nggak kok. Suara Amanda merdu banget. Seperti musik,” bela seorang gadis bermata biru yang duduk di sebelah Amanda.

Amanda melongo. Dia tidak tahu bahwa ternyata gadis bermata biru itu mendengarkannya mengaji sejak tadi.

“Ngapain kamu ikut campur?” bentak anak laki-laki itu dengan nada tinggi.

“Kenapa kamu teriak-teriak? Berisik tau!” balas gadis itu, membalikkan ucapan anak laki-laki itu beberapa saat yang lalu.

Anak laki-laki itu terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.

Akhirnya anak laki-laki berambut pirang itu pergi dengan raut wajah kesal dan malu yang amat sangat.

Setelah anak laki-laki itu menghilang dari pandangan, Amanda segera berterima kasih pada gadis bermata biru itu. Amanda ingat, saat awal masuk kelas dulu, dia sempat berkenalan dengan gadis cantik bermata biru ini. Namanya Hellena.

“Ah, terima kasih banyak sudah menolongku,” ujanya tulus.

Gadis bermata biru itu tersenyum.

“Bukan masalah kok. Lagi pula aku sudah lama mendengar kamu membaca itu,” ujarnya sambil menunjuk Al-Qur’an yang masih terbentang di atas meja.

“Itu Al-Qur’an, kan?” sambung Hellena sambil tersenyum lebar, dan berhasil membuat Amanda melotot kaget.

Bagaimana bisa gadis bermata biru ini mengetahui Al-Qur’an?

“Jangan kaget begitu. Nenekku juga beragama islam. Jadi aku sudah tidak asing lagi dengan hal-hal seperti itu,” beritahunya.

“Ah, begitu. Tapi kenapa kamu sering mendengarku membaca ini? Bukankah kamu juga bisa mendengarnya dari nenekmu?” tanya Amanda penasaran.

Wajah gadis itu seketika berubah mendung. Kesedihan tampak menggantung di sana. Mata birunya yang cerah berubah redup.

“Dulu, nenek sering sekali membaca itu, dan aku selalu mendengarnya dengan setia. Tapi beliau sudah meninggal, jadi aku tidak bisa lagi mendengar lantunan itu,” ceritanya dengan wajah sedih.

“Ah maaf, aku membuatmu sedih.”

“Tidak apa-apa. Tapi apa kamu tahu, lantunanmu mirip sekali dengan lantunannya,” beritahu Hellena mengejutkan. Binar di mata birunya sudah kembali seperti semula.

“Benarkah?” tanya Amanda.

Hellena mengangguk. “Makanya aku sering mendengarkanmu diam-diam, suaramu mengingatkanku dengan lantunannya.”

“Terima kasih,” sahut Amanda malu-malu.

“Hei. Aku boleh jadi temanmu, kan?” tanya Hellena antusias.

“Tentu saja. Senang berteman denganmu,” sahut Amanda senang. Di dalam hati dia mengucapkan ribuan syukur karena bisa bertemu dengan gadis bermata biru ini.


--Tamat--


Sabtu, 23 Juli 2016

The Nosebleed






Darah.
Salah satu hal yang dibenci gadis itu di atas dunia. Tapi sialnya, darah yang dibenci gadis itu malah meluncur deras dari hidungnya. Setiap hari.
Yah, dia tahu itu disebut mimisan, gadis itu hanya... tidak menyukai sebutan itu. Kata mimisan... terdengar mengerikan di telinganya.
Awalnya gadis itu hanya mengabaikannya dan mencoba berpikir bahwa hal itu terjadi hanya karena dia kelelahan. Tapi semua pikiran positifnya hilang sudah ketika hal itu berlangsung setiap hari.
Dan ketakutannya memuncak, ketika dia yakin bahwa darah yang keluar—oh baiklah, namanya mimisan—itu bukan karena gadis tersebut kelelahan. Karena darah itu bahkan mengalir keluar ketika dia baru bangun tidur. Kegiatan yang menurutnya tidak menguras tenaga sama sekali.
Hari ini hujan. Aktivitas alam yang paling disukainya. Tapi kenapa darah yang sangat dibencinya malah keluar pada saat-saat hal yang paling disukainya turun?
Dan entah kenapa di saat-saat seperti ini gadis itu mendadak bergidik ngeri membayangkan berbagai macam penyakit yang mungkin saja diidap oleh tubuhnya tanpa sepengetahuannya sendiri.
Lalu sekarang apa? Periksa ke rumah sakit?
Dan itu berarti dia harus dengan sukarela melangkahkan kakinya ke dalam bangunan yang beraroma mengerikan itu. Rumah sakit.

Feel Guilty





Gadis itu menyayangi teman-temannya. Sangat.
Mereka adalah karunia Allah dan merupakan bagian hidup yang tak terpisahkan dari dirinya. Dia mampu memaafkan mereka semua bahkan jika mereka telah menyakiti atau melukai perasaannya. Dia masih bisa tersenyum jika orang yang menyakitinya itu adalah temannya.
Tapi bagaimana jika yang menyakiti teman-teman yang disayanginya itu adalah dirinya sendiri?
Hari ini gadis itu melukai tangan temannya tanpa sengaja. Temannya mengejutkannya dengan menyentuh tengkuknya dan membuatnya merasa geli. Karena kaget, gadis itu refleks berdiri sambil berusaha menjauhkan tangan temannya itu dari tengkuknya yang terasa merinding.
Memang, semua terjadi begitu cepat dan peristiwa itu terjadi bukanlah kesalahannya. Tapi fakta bahwa kukunya telah meninggalkan luka gores di tangan temannya itu membuatnya entah bagaimana merasa marah pada dirinya sendiri.
Dia melukai temannya. Tanpa sengaja memang, tapi berhasil membuat segala rasa bersalah dalam dirinya memuncak dan berubah menjadi air mata. Tapi sialnya, air mata dari rasa bersalah dan penyesalannya berubah menjadi luka baru bagi temannya.
Karena kerapuhan jiwa yang tak sanggup dibendungnya, dia terus menangis dan menimbulkan begitu banyak konflik bagi teman-temannya.
Akhirnya gadis itu menyadari, bahwa air matanya adalah pedang, yang mampu mengundang segala bentuk pertengkaran. Seperti yang terjadi kemarin dan beberapa bulan silam.

Flash back
Beberapa bulan yang lalu...

Gadis itu memandang seksama belalang besar yang ada di hadapannya. Dihadapan temannya lebih tepatnya. Dia tidak mau dan tidak akan pernah berada dalam jarak dekat dengan serangga berukuran besar. Karena hewan-hewan itu entah bagaimana mampu membuat seluruh bulu kuduknya meremang.
Serangga hijau besar itu—oh baiklah, namanya belalang—berpindah ke tangan temannya yang lain. Saat itu gadis tersebut merasa cukup lega, karena belalang besar itu tidak lagi berada di depannya dan berhenti membuatnya merinding.
Tapi tiba-tiba, teman-temannya berseru bahwa belalang itu hinggap di punggungnya. Karena rasa ngeri serta takut yang menjalar dengan cepat, gadis itu melompat, melonjak-lonjak seperti orang gila, berusaha sekuat tenaga mengenyahkan belalang itu dari punggungnya. Kelakuan anehnya itu tentu saja menimbulkan tawa dari teman-temannya yang lain. Barulah ketika belalang itu berhasil diambil oleh temannya, dia mulai menyadari bahwa dadanya terasa begitu sesak dan tubuhnya terasa lemas sekali.
Dia masih ingat dengan jelas betapa ketakutan akan belalang besar itu telah membuat tubuhnya bergetar hebat. Dan tanpa bisa dikendalikan, air matanya merebak, membuat tubuhnya berguncang hebat karena isakan dan bercampur dengan getaran hebat yang ditimbulkan oleh belalang besar itu.
Semua temannya mulai merasa cemas dan merasa khawatir, tidak menyangka akan reaksi mengejutkan yang diperlihatkan gadis itu. Tentu saja, mana ada manusia yang bisa berguncang hebat seperti itu hanya karena seeokar belalang? Reaksi gadis itu menimbulkan berbagai kecemasan, hingga menyebabkan aksi salah menyalahkan.
Salah seorang teman laki-laki gadis itu, menyalahkan seorang laki-laki yang merupakan anak baru di kelas itu. Anak baru itu membantah bahwa dia sama sekali tidak sengaja melempar belalang itu ke punggung gadis tersebut. Tapi teman laki-lakinya itu bersikeras bahwa anak baru ini bersalah dan menyuruhnya meminta maaf.
Dan pertengkaran pun tak bisa dihindarkan.
Nyaris saja terjadi baku hantam jika teman-teman yang lain tidak segera melerai mereka.

**
Air mata gadis itu dengan cepat mengundang perkelahian.
Dan gadis itu baru menyadarinya hari ini. Ketika dia menghabiskan berbelas-belas menit untuk menangis.
Benar. Dia menangis cukup lama, sehingga teman-temannya juga ikut pulang lebih lama hanya untuk menenangkannya yang terisak, membuatnya lagi-lagi merasa bersalah.
Karena menanggung rasa bersalah itu, amat berat baginya. 


The Existence



Assalamu'aikum warrahmatullahi wabarakaatuh..
Apa kabar Rainer's? Sehatkah? :)

Hari ini saya mau posting sebuah potongan cerpen. Jadi di cepen ini ceritanya Rayna adalah seorang anak dari sebuah keluarga kaya. Namun entah kenapa kehadirannya tak pernah diharapkan oleh keluarganya sendiri, padahal selama ini dia selalu berusaha bersikap baik dan tak pernah mengeluh. Tapi tetap aja sang keluarga benci setengah mati sama gadis baik ini. 

Jadi, entah kenapa saya tiba-tiba terpikir untuk membuat potongan adegan ini. Adegan dimana semua tangis yang ditahannya selama ini pecah. Hahaha.. terkadang ide di kepala saya memang nggak masuk akal dan sering nggak tau tempat. Mana munculnya cuma setengah lagi -,- 
Hahaha..
Pokoknya maafkan ketidakjelasan tulisan ini ya, salahkan saja inspirasi di kepala saya yang hanya nongol setengah, kemudian ngilang -__-

Hahahhaa, selamat membaca~



The Existence


Gadis itu termenung di hening kamar. Memeluk lutut yang tertekuk sambil menatap kosong ke arah dinding polos bewarna putih di hadapannya.

Terdengar dentingan sendok dan piring di kejauhan. Seperti biasa, keluarganya tengah menyantap makan makam bersama. Tanpanya.

Gadis itu tahu, bahkan tanpa ada seorangpun yang memberitahunya.
Kehadirannya tak diinginkan.
Keberadaannya tak diperlukan
Kedatangannya tak dibutuhkan.

Mungkin tidak masalah jika hal ini diterimanya dari orang lain. Dia mungkin masih bisa bersabar dan tetap memasang senyum di setiap langkahnya.

Tapi bagaimana jika kali ini dia berhadapan dengan keluarganya sendiri. Orang-orang terdekat yang harusnya mengerti dirinya dengan baik. Bukankah dia juga bagian dari keluarga ini? Tapi kenapa seluruh keluarga bahkan menginginkannya tak tercipta.

Gadis itu tahu bahwa dia bahkan tidak memiliki keistemewaan apapun. Setidaknya dia cukup tahu diri untuk menyadari bahwa dia tidak memiliki sesuatu apapun untuk dibanggakan.

Tapi gadis itu yakin bahwa dia sudah bekerja keras. Dia yakin sudah berusaha yang terbaik. Melakukan segala yang dia bisa. Memberikan segala waktu yang dimilikinya. Untuk keluarga ini. Agar setidaknya mereka semua menoleh ke arahnya, dan mulai menyadari kehadirannya.

Tapi ketika semua letih dan kerja kerasnya bahkan tak memiliki makna di dalam keluarga yang dikasihinya, segalanya menjadi berantakan.
Perlahan, dunia mulai terlihat menakutkan.
Perlahan, semua orang berubah mengerikan.
Perlahan, lingkungan menjadi labirin yang menyesatkan.

Kemudian segalanya runtuh.
Kesabaran.
Ketabahan.
Keceriaan.
Bahkan segala impian.

Dan gadis itu tenggelam. Tersesat di antara dalamnya buih lautan.
Tanpa cahaya.
Tanpa sinar.
Tanpa terang.

Gadis itu kemudian menyadari satu hal.
Bahkan jika dia menjadi malaikat sekalipun, takkan pernah ada tempat baginya di keluarga ini.