Minggu, 23 Maret 2014

Wajah Teduh Milik Rayna - Part 4







PART IV


09.00 PM

Kayla’s Home, at bed room.


Sebagai wanita muslimah aku tahu kewajibanku untuk berhijab dan selalu menutup rapat auratku. Tapi sayangnya aku masih belum punya kemauan untuk berhijab. Padahal hijab itu yang paling penting dari seorang wanita. Aku tahu hal itu, tapi entah kenapa rasanya sulit sekali untuk melaksanakannya. Ditambah lagi seragam sekolah yang memang tidak menuntut para siswa untuk menggunakan kerudung. Aku jadi semakin jauh dengan hijab.

Tapi saat melihat Rayna, aku merasakan sesuatu yang aneh. Aku merasa seperti disihir oleh hijabnya. Seolah hijabnya memerintahkanku untuk turut menutup rapat auratku.

Dan sejak melihat wajah teduhnya yang dibingkai oleh kerudung. Hatiku seakan tergerak untuk menutup rapat auratku dan berfikir ulang mengenai pakaian yang pantas digunakan oleh seorang wanita.

Tanpa sadar, aku beranjak ke lemari pakaianku dan mengambil sebuah kerudung pemberian nenekku saat ulang tahunku yang kesepuluh. Beliau ingin sekali melihatku menggunakan hijab sepertinya. Tapi saat itu aku menolak untuk mengikuti keinginannya.

Kerudung itu berwarna turquoisedengan hiasan bunga dan kupu-kupu di pinggirnya. Modelnya cukup panjang dan melewati hingga dada.

Aku menggunakan kerudung itu dan memandang diriku sendiri di depan cermin. Aku terlonjak kaget saat menyadari bahwa aku tak mengenali pemilik wajah yang terpantul di cermin saat ini.

Apa itu aku? Benar itu aku. Aku cukup yakin mengatakan bahwa gadis yang menggunakan kerudung berwarna turquoiseitu adalah aku. Hanya saja, aku tak menyangka bahwa wajahku akan berubah sedrastis ini. Tampak lebih cerah dan... teduh.

Kemudian aku mencoba menggunakan gamis polos berwarna biru laut pemberian ibuku. Baju ini masih sangat bagus karena memang tak pernah kukenakan sekali pun.

Dan saat gamis ini melekat di tubuhku, mendadak aku merasakan nyaman yang tak bisa kugambarkan seperti apa rasanya. Hanya saja, aku cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa rasanya aku seperti dilindungi. Dilindungi oleh pakaian memang terdengar konyol, tapi seperti itulah kenyataannya. Aku merasa seperti dilindungi oleh ibuku, nenekku, dan juga... Allah SWT.


***


One week Letter

06.56 AM

At Class, School.


Sejak menggunakan gamis malam itu. Aku sering melamun. Aku ingin segera menggunakan kerudung dan berhijab. Tapi aku takut dengan reaksi orang-orang di sekitarku. Apa yang akan mereka pikirkan tentang aku yang awalnya berpakain terbuka, mendadak berpakain tertutup. Mereka pasti akan berpikiran buruk dan akan menggosipkanku. Belum lagi, aku masih belum tahu, apa sekolah mengizinkan seragam yang tertutup seperti seragam Rayna.

“Kayla,” tegur seseorang mengakhiri lamunanku.

“Eh, oh, ah, iya Bu?” tanyaku kaget saat menyadari ternyata Ibu Risa yang menegurku.

“Kenapa melamun? Ada masalah, ya?”

“Hehehe... Tidak kok. Ng, ada apa ya, Bu?” tanyaku penasaran. Kenapa ibu Risa datang ke kelas dan mendatangiku?

“Kemana Rayna?”

“Rayna belum datang. Memangnya kenapa, Bu??”

“Oh tidak apa-apa. Ibu hanya ingin menyampaikan bahwa Rayna diizinkan untuk menggunakan seragam yang tertutup. Tetapi corak seragamnya harus sama dengan corak yang sudah ditentukan oleh sekolah.”

“Oh begitu. Ya sudah, biar saya yang sampaikan.”

“Baiklah, terima kasih ya, Kayla.”

“Iya, sama-sama.”


***


“Assalamu’alaikum,” sapa seseorang kembali mengagetkanku.

“Eh, Wa’alaikum salam.”

“Kayla kenapa melamun?”

“Tidak apa-apa kok. Oh iya, tadi ibu Risa datag cari kamu. Dia bilang kamu diberi izin untuk menggunakan seragam yang tertutup, tapi dengan syarat coraknya harus sama dengan corak sekolah ini.”

“Benarkah?” tanyanya berbinar-binar.

Aku mengganggukkan kepalaku sekilas. Sepertinya dia benar-benar senang sekali bisa menggunakan kerudung. Mungkin aku bisa menceritakan kendalaku padanya.

“Alhamdullillah, syukurlah,” ucapnya lega.

“Hmmm, Ray, boleh tanya sesuatu, tidak??”

“Tentu.”

“Begini. Aku sudah memutuskan ingin menggunakan kerudung, tapi...”

“Benarkah? Subhanallah. Aku turut senang, Kay,” serunya histeris memotong ucapanku.

“Ng tapi ada sedikit kendala, aku sedikit takut dengan reaksi orang-orang disekitarku.”

Dan reaksi yang kudapatkan sangat mengejutkan. Dia tertawa. Gadis ini tertawa. Memangnya apa yang lucu?

“Kenapa tertawa?”

“Ah, maaf. Tapi kendala yang kamu alami persis seperti aku dulu.”

“Jadi, kamu juga pernah mengalami kendala saat berhijab?”

“Iya.”

“Lalu gimana cara kamu mengatasinya?”

“Entalah. Aku juga tidak ingat. Yang pasti saat itu, keberanianku mulai muncul saat sesuatu yang menakutkan datang padaku.”

“Memangnya apa yang terjadi?”

“Ceritanya panjang. Tapi intinya, saat itu aku hampir dilecehkan oleh kakak kelasku, tapi untung saja aku sempat diselamatkan sebelum pria bejat itu melakukan sesuatu yang buruk pada tubuhku,” ungkapnya murung dengan suara bergetar.

“Saat itu, aku baru saja kelas satu SMP dan menginjak masa pubertas. Jadi yang aku lakukan adalah bergaya sana-sini seperti teman-temanku yang lainnya. Dan ternyata yang kudapatkan adalah hal mengerikan seperti itu,” ceritanya dengan mata berkaca-kaca mengenang kembali masa menyakitkan itu.

“Lalu? Siapa yang menyelamatkanmu?”

“Entahlah. Kurasa dia kakak kelasku. Aku tak sempat mencari tahu. Karena setelah kejadian itu, aku minta pindah sekolah ke kampung halaman ibuku dan tinggal disana bersama nenekku. Aku bahkan tidak tau siapa nama wanita yang menyelamatkanku itu. Yang ku ingat hanyalah wajahnya yang teduh. Dia menggunakan kerudung. Saat menenangkanku di ruang UKS dia sempat menasehatiku agar bila besar nanti menutup auratku. Karena dia tidak bisa berlama-lama menemaniku, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih dan tidak sempat mencaritahu tentangnya, karena keesokan harinya, aku segera pindah sekolah,” ceritanya panjang lebar dengan mata menerawang, kurasa dia mencoba mengingat lagi wajah sang kakak kelas itu.

“Dan saat bersekolah di kampung halaman ibuku, aku memutuskan untuk menggunakan kerudung dan berhijab seperti yang disarankan oleh kakak itu. Aku juga tidak mau kejadian seperti itu terulang kembali. Dan ternyata, menggunakan kerudung dan berhijab sangat menyenangkan. Aku merasa seperti terlindungi oleh pakaian tertutup seperti itu.”

Rayna mengakhiri ceritanya dengan senyum tipis. Wajahnya yang terlihat sedih beberapa saat yang lalu entah menguap kemana. Dan entah kenapa aku merasa pemikiran Rayna sedikit serupa dengan pemikiranku. Kami sama-sama berfikir bahwa pakaian tertutup itu terasa seperti melindungi.


To Be Continued


***


Sabtu, 22 Maret 2014

Wajah Teduh Milik Rayna - Part 3




PART III


Friday

07.09 AM

At Class, School.


“Selamat pagi Anak-anak,” sapa ibu Risa, wali kelas kami.

“Pagi buuuuk,” jawab kami serempak.

“Pagi ini kalian mendapatkan teman baru. Ayo nak, mari masuk,” ujar ibu Rina memberitahu sambil mengajak masuk seorang murid perempuan.

“Ayo perkenalkan dirimu.”

“Assalamu’alaikum teman-teman,” sapanya sambil tersenyum tipis.

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatu,” jawab seluruh kelas serempak.

“Perkenalkan, nama saya Rayna Islami. Kalian semua bisa panggil saya Rayna. Saya harap kita semua dapat berteman dengan baik. Mohon bimbingannya,” ujarnya memperkenalkan diri sambil terus memasang senyum yang sejak tadi tak pernah luntur.

Aku hanya bisa terpaku memandang gadis di depanku. Bukan karena dia begitu cantik sehingga membuat semua lelaki di kelas ini menjadi terpesona. Bukan juga karena dia begitu manis sehingga menjadi pusat perhatian seluruh gadis di kelas ini.

Hanya saja, ada sesuatu yang membuatku terpaku.

Wajah gadis ini begitu berbeda dari kebanyakan gadis lain yang pernah kutemui. Cara ia tersenyum, cara ia menyapa kami semua dengan ucapan salam halus yang meluncur dari bibir tipisnya, cara ia menggunakan kerudungnya yang dalam yang ia jujulurkan hingga menutupi dada. Semuanya berbeda.

Wajahnya teduh.

Mungkin wajah paling teduh yang pernah kulihat.

Dan yang semakin membuat mulutku terbuka lebar adalah ternyata dia adalah gadis yang kulihat kemarin. Karena tiba-tiba saja dia tersenyum padaku sambil melambaikan tangannya.

Ternyata dugaanku benar. Gadis ini adalah siswa baru di sekolah ini.

Dan entah kenapa saat melihat wajahnya, mendadak aku diliputi perasaan aneh. Sebuah perasaan kagum yang menuntunku ke sebuah jalan lurus milik Sang Ilahi.


***


“Assalamu’alaikum. Nama kamu siapa?” sapa Rayna dari arah samping.

Yap. Setelah perkenalan singkat tadi, ibu Risa menyuruh gadis berkerudung berwajah teduh ini untuk duduk sampingku. Waaahh, senangnya dapat teman baru.

“Wa’alaikumsalam. Namaku Kayla. Kayla Andini.”

 “Masya Allah. Namanya bagus sekali.”

“Terimakasih.”

Gadis itu hanya menjawabanya dengan senyum simpul dan mengarahkan pandangannya ke depan kelas. Dan sebentar lagi pelajaran guru paling killer di sekolah ini akan dimulai.


***


Semua murid mendadak diam saat Bu Kartini atau yang biasa di panggil Ibu Tini menginjakkan kakinya ke dalam kelas. Seperti biasa, beliau selalu menenteng buku Kimia di tangan kanannya dan menggenggam sebatang rotan di tangan kirinya.

Sudah jadi rahasia umum bahwa ibu Tini ini terkenal ganas. Saat beliau mengajar, tak ada seorang pun yang berani berbicara ataupun menyela. Saat ada murid yang mengantuk atau sudah sampai pada tahap tertidur, bu Tini akan menghentakkan rotan yang selalu di bawanya itu ke papan tulis dengan tenaga penuh. Dan murid yang tertidur itu, dijamin akan langsung meloncat dari dunia mimpinya yang indah menuju dunia nyata yang mengerikan karena disambut oleh teriakan spektakuler dari seorang guru yang terkenal ganas di sekolah ini.

Karena itulah, saat bel pergantian belajar berbunyi, para murid serentak mengusap dadanya lega, dan memijat pundak mereka yang tegang karena harus selalu melihat ke depan saat pelajaran ibu Tini.

“Kayla, Rayna boleh bertanya sesuatu tidak?”

“Tentu. Ingin bertanya apa?”

“Apa seragam sekolah disini memang ... ng ...”

“Tidak menggunakan kerudung maksudnya.”

Dia mengangguk.

“Ya. Apa peraturannya memang seperti itu. Apa memang harus menggunakan kemeja lengan pendek dan rok sebatas lutut?” tanyanya cemas.

“Setahu Kayla sih memang begitu,” jawabku sekenanya. Karena aku memang tak pernah melihat siswa sekolah ini menggunakan seragam yang tertutup. Lagi pula seragam dinas guru-guru pun juga tidak menggunakan kerudung

“Kalau begitu, bagaimana dengan Rayna. Rayna tidak mau menggunakan seragam seperti itu,” ucapnya sedih.

“Coba saja tanya sama ibu Risa. Siapa tahu ibu Risa bisa kasih solusi,” ujarku memberi saran.

“Ng, Afwan, eh maksudnya maaf,” ralatnya saat melihat wajah bingungku mendengar kata ‘afwan.’

“Bisa tidak antarkan Rayna kesana. Soalnya Rayna tidak tahu ruang majelis guru.”

“Tentu saja. Mari Kayla antar.”

“Terima kasih. Maaf merepotkan.”

“Sama-sama. Hahaha. Tidak apa-apa kok.”


***


Saat menuju ruang majelis guru, aku dan Rayna mendadak menjadi pusat perhatian. Sudah pasti bukan aku yang diperhatikan, tapi Rayna. Karena murid-murid di sekolah ini pasti sedikit asing dengan penampilan Rayna yang berpakain tertutup. Tapi hebatnya, Rayna sama sekali tidak merasa terganggu oleh pandangan para siswa itu. Dia tetap melangkah dengan anggun meskipun kakinya ‘dililit’ oleh sebuah rok panjang sampai ke mata kaki.

Lamunanku terhenti saat kami tiba di ruang majelis. Aku langsung menuntun Rayna ke meja ibu Risa dan menyampaikan keluhan mengenai seragam sekolah. Dan ibu Risa dengan senang hati membantu Rayna.

“Baiklah Rayna. Ibu mengerti. Nanti akan ibu tanyakan pada kepala sekolah dan guru kesiswaan, semoga saja sekolah mengizinkan kamu untuk terus berpakain tertutup seperti ini.”

“Syukurlah. Terima kasih banyak bu.”

“Iya, sama-sama.”


To Be Continued


***

Wajah Teduh Milik Rayna - Part 2




PART II


At class, school

06.59 AM

Jeng jeng jeng~

Aku selamat. Meskipun sampai di sekolah dengan penampilan berantakan dan napas ngos-ngosan, aku berhasil datang tepat waktu dan berhasil lolos dari lambaian surat “Panggilan Orang Tua” dari guru kesiswaan.

‘Sepertinya ini hari keberuntunganku.’

Setidaknya hal itulah yang ingin ku ucapkan, sampai aku tiba di kelas dan sebuah ucapan tersangkut di kepalaku.

“Kayla, hari ini kan tugas kamu buat piket, kenapa datang terlambat?” tanya Dina.
Gawat, aku melupakan fakta bahwa hari ini tugasku piket kelas.

“Iya, kenapa datangnya terlambat? Aku dan Jenni jadi piket berdua,” sahut Lila manyun.

“Sorry La, tadi aku kesiangan, dan untung saja tidak terlambat, jika hari ini aku terlambat, orangtuaku pasti dipanggil lagi,” ujarku berusaha meminta maaf sambil berbicara panjang lebar tanpa diminta.

“Meski begitu kamu harus tetap bayar denda lho, Kay,” timbrung Rezi, sang bendahara kelas.

Memang sudah jadi peraturan kelas untuk membayar denda jika tidak mengerjakan piket. Dan uang kas kelas semakin bertambah akibat hal ini. Pasalnya, banyak siswa di kelas kami lebih memilih membayar denda dari pada mengerjakan piket. Biasanya hal ini umum di kalangan laki-laki.

Mereka berdalih dengan alasan tidak pandai mengerjakan tugas rumah tangga. Padahal kami perempuan di kelas itu tahu dengan jelas bahwa mereka semua merasa gengsi untuk menyapu atau sekedar membersihkan jendela.

“Iya aku tahu, nanti ya, aku kasih uangnya ke kamu saat jam istirahat.”

“Oke.”


***


Two Next Day


Thursday

10.15 AM

At Class, School.


Hari ini kelasku benar-benar ribut dan berisik. Padahal ibu Nur, guru Matematika, dengan semangat menjelaskan rumus-rumus yang entah kenapa tak pernah menyangkut di kepalaku meskipun aku selalu mendengarkan dengan seksama. Sepertinya pelajaran Matematika punya dendam pribadi denganku.

Aku mengalihkan wajahku bosan dan memandang ke luar kelas. Kira-kira lima meter dari depan kelasku berdiri seorang gadis menggunakan baju gamis berwarna coklat. Kerudung dan gamis yang dikenakan gadis itu bergoyang anggun karena tertiup angin. Tapi sayang, aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena silau oleh cahaya matahari.

Tiba-tiba dia tersentak saat sadar aku memperhatikannya sejak tadi. Kemudian aku melihat tangannya melambai ke arahku. Aku membalas sapaannya dengan senyum tipis. Kemudian dia berbalik dan berlalu begitu saja.

Siapa gadis itu? Misterius sekali.  

Woah, apa yang kau lakukan Kayla. Jika memperhatikan guru menerangkan di depan kelas saja kau tetap tak mengerti pelajaran ini, apalagi jika tidak kau perhatikan? Kau akan menjadi semakin tak mengerti.

“Fokus Kayla, fokus,” ucapku dalam hati.

Tapi entah kenapa saat berusaha fokus, aku malah semakin terbayang dengan gadis itu. Aneh sekali, gadis itu benar-benar membuatku penasaran.

Apa yang dilakukan gadis itu disini? Apa dia siswi baru? Tapi kenapa tidak ada kabar tentang hal itu. Biasanya kelasku selalu up date tentang informasi-informasi terbaru yang terjadi di sekolah.

Aku menggelengkan kepalaku sekilas. Mengingatkan diriku sekali lagi agar berhenti memikirkan gadis itu dan kembali berkonsentrasi.

Beberapa menit kemudian ...

Hooaaahhmm. Kapan ibu Nur selesai menerangkan rumus-rumus itu? Tiba-tiba aku menjadi sangat mengantuk dan tidak bersemangat lagi untuk mendengarkan penjelasannya.

Aku tak tahu, entah ini hanya perasaanku saja atau memang kenyataannya seperti itu. Tapi aku selalu merasa saat pelajaran Matematika jam berputar sangat lambat. Seperti saat ini misalnya, aku merasa sudah mendengarkan penjelasan ibu Nur selama satu jam penuh, padahal beliau baru memulai pelajarannya dua puluh menit yang lalu.

Ternyata dugaanku benar. Matematika punya dendam pribadi padaku. Kalau memang begitu, berarti aku tak akan pernah bisa paham pelajaran matematika, kan? Huaaaa, membayangkannya saja sudah membuatku merinding. Tidak bisa matematika akan membawa kesulitan di masa depan. Dan aku sama sekali tidak berniat untuk mencoba kesulitan itu.

“Kay, kamu ngerti apa yang dijelasin ibu Nur, nggak?” bisik Dina yang duduk dibelakangku.

“Tidak sama sekali,” jawabku muram.

“Sama Kay. Aku juga nggak ngerti nih. Entah pelajarannya yang terlalu sulit atau aku yang terlalu bodoh.”

“Pasti kita yang terlalu bodoh. Lihat saja si Ririn, dia kencng banget jawab pertanyaannya ibu Nur.”

“Kalau Ririn mah, nggak usah ditanya. Semua orang juga tahu kalau dia jago matematika dan jadi anak emas ibu Nur.

Aku hanya menanggapi ucapan Dina dengan mengganggukkan kepalaku sekilas. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Eh Din, tadi kamu lihat cewek nggak di luar?”

“Hah? Nggak tuh. Emangnya kenapa?”

“Enggak. Aku cuma penasaran aja.”

Aku semakin penasaran tentang gadis itu. Tanpa tahu bahwa aku akan segera mengetahui identitas gadis itu esok hari.


To Be Continued


***


Wajah Teduh Milik Rayna - Part 1





Wajah Teduh Milik Rayna

PART I

Prolog

Aku terpaku memandang gadis di depanku. Bukan karena dia begitu cantik sehingga membuat semua lelaki di kelas ini menjadi terpesona. Bukan juga karena dia begitu manis sehingga menjadi pusat perhatian seluruh gadis di kelas ini.

Hanya saja, ada sesuatu yang membuatku terpaku.

Wajah gadis ini begitu berbeda dari kebanyakan gadis lain yang pernah kutemui. Cara ia tersenyum, cara ia menyapa kami semua dengan ucapan salam halus yang meluncur dari bibir tipisnya, cara ia menggunakan kerudungnya yang ia jujulurkan hingga menutupi dada. Semuanya berbeda.

Wajahnya teduh.

Mungkin wajah paling teduh yang pernah kulihat.


***


Monday, at class, school.

Hari ini adalah senin, hari keramat bagiku. Ah tidak, sepertinya bukan hanya aku yang menganggap hari senin hari keramat. Karena beberapa temanku yang lain sibuk mengeluhkan hari ini.

Tahukah kenapa? Yap! Upacara. Upacara menjadi salah satu penyebab utama siswa sekolah ini memberi julukan “Keramat” pada hari senin.

Upacara di sekolah kami ini berbeda dengan upacara dari sekolah lain, jika sekolah lain hanya melaksanakan upacara selama 30-40 menit, sekolahku tempat menuntut ilmu ini  malah melaksanakan upacara selama 60 menit. Benar-benar tidak tanggung-tanggung.

Karena itulah, seluruh sekolah akan berguncang heboh jika speaker sekolah mengumumkan pembatalan upacara yang biasanya disebabkan oleh hujan. Dan saat itu terjadi, hari keramat itu dengan cepat beru bah menjadi hari yang paling membahagiakan.

Kemudian alasan lain penyebutan keramat pada hari senin adalah karena semua razia dilaksanakan hari ini. Mulai dari kuku sampai ke rokok yang sering terselip di tas para pria berandal di sekolah ini.

Dan aku, selalu saja terjaring razia “Cantik yang melebihi batas” hehehe bohong ding. Razia yang selalu jadi langgananku adalah kuku. Pasalnya, aku selalu lupa untuk memotong kuku-ku di hari minggu. Karena itu aku selalu kena imbasnya di hari senin.

“Sepertinya hari ini sedikit mendung," ucap salah seorang teman sekelasku dengan nada bahagia yang terdengar jelas dari suaranya.

“Benar. Semoga senin kali ini turun hujan,” sahut temanku yang satunya dengan suara penuh harap.

Memang benar. Hujan menjadi sesuatu yang paling dinanti oleh seluruh murid di sekolah ini jika kalender menunjukkan hari bernama “Senin.”

Aku salah seorang yang mengharapkan turunnya hujan di hari ini. Sejak minggu kemarin doa agar hujan turun sudah mulai ku ucapkan, dan berlanjut hingga hari ini. Dalam hati, aku masih terus berharap hujan akan turun.

Dan doaku terkabul.

Perlahan tapi pasti, gerimis kecil mulai turun sebelum akhirnya berganti menjadi hujan deras. Kemudian disusul oleh suara speaker yang menggema seantero sekolah untuk memberitahu bahwa upacara ditiadakan.

Dan teriakan kebahagian siswa sekolah ini, mengalahkan kuatnya bunyi hujan yang saat ini berhamburan menghantam tanah.

“YEEEEEE!!!!”


***


Tuesday, at home.

06.30 AM


KRIIIINNGG!!!

Aku membuka mataku dengan susah payah dan sukses terbuka lebar ketika melihat angka yang tertera di jam bekerku. Gawat. Gawat. Sudah jam setengah tujuh.

Oh tidak. Aku terlambat bangun lagi. Kebiasan burukku yang satu ini benar-benar sulit sekali dihilangkan. Menyebalkan.

Bangun kesiangan kerap kali menjadi senjata yang membuatku sering datang terlambat ke sekolah. Aku memang selalu bangun jam 5 setiap hari untuk melaksanakan shalat subuh, tapi sering kali, aku selalu melanjutkan tidurku hingga akhirnya terbangun kembali pada jam enam atau jam setengah tujuh. Dan hal inilah yang menjadi biang keladi penyebab keterlambatanku ke sekolah.

Ah, sudah berapa kali aku terlambat bulan ini? Dua kali? Atau tiga kali? Sepertinya lebih dari itu. Orang tua ku pernah sekali dipanggil karena hal ini dan aku mendapatkan ceramah panjang lebar sebagai hadiahnya. Dan ternyata hal itu masih belum cukup untuk membuatku jera bangun kesiangan.

Aku berlari secepat kilat ke kamar mandi. Dan keluar dari sana lima menit kemudian. Bergerak tergesa-gesa menggunakan seragam dan menyisir serta menguncir rambutku serampangan. Aku tak tahu tampak seperti apa aku saat ini. Tapi yang jelas penampilanku saat ini lebih dari sekedar berantakan. Masa bodoh soal kerapian. Hal paling utama yang saat ini harus dipirkan adalah bagaimana caranya agar sampai disekolah tepat waktu. Atau aku akan terlambat dan mendapatkan lambaian surat “Panggilang Orang Tua” lagi dari guru kesiswaan.

Jika hal itu sampai terjadi, bukan hanya ceramah panjang lebar yang akan kudapatkan, tapi juga hukuman-hukuman mengerikan dari ayahku seperti pemotongan uang saku. Jika itu sampai terjadi batal sudah rencanaku untuk membeli novel terbaru. Dan tidak bisa membaca novel adalah hukuman yang kuanggap mengerikan.

Saat ini aku hanya bisa berdoa. Semoga saja pintu gerbang sekolah masih terbuka lebar saat aku sampai nanti.

To Be Continued

***


Senin, 17 Februari 2014

Jika Cinta Hanya Sebatang Coklat Dan Setangkai Mawar






Jika Cinta Hanya Sebatang Coklat Dan Setangkai Mawar
sumber : Buku #Udah Putusin Aja, karya Ustad Felix Siauw.

Cinta sebatas sebatang coklat?
Wajarlah bila ia hilang dilahap nafsu.
Bila tidak, ia pun akan lekang digerogoti masa.

Wajar pula dia bisa ditetak dengan pisau selingkuh.
Kenapa tidak?
Toh cinta sebatas sebatang coklat.

Atau cinta terbatas layaknya setangkai mawar merah,
Wajar pula waktu meluruhkan merahnya, 
Meninggalkan kering kelopak tanpa nyawa.

Habis indah wangi mawar. 
Yang tinggal hanya getir pedih penyesalan.

Bagaimana bila ia bunga kertas atau plastik,
yang katanya takkan habis dimakan waktu?
Betul ia bertahan, namun cinta akan sepalsu tampaknya.

Bila cinta sebatang coklat atau setangkai bunga,
ia bisa dibayar pula dengan sejumlah harga.
Tak peduli siapa yang meminta.

Tapi tidak bagi seorang mukminah, cinta punya mahar.
Pernikahan yang hanya dapat diberikan, 
kepada hamba-hamba Allah yang ikhlas nan taat.

Bagi mereka, cinta adalah tanggung jawab,
yang hanya diserahkannya kepada ahlinya.
Yang dapat membimbing mereka ke halaman surga.

Tidak pula cinta ndeso Romeo-Juliet jadi pilihan para mukmin.
Apalagi kisah sontoloyo Laila-Majnun, 
atau epik lain yang tak mendidik.

Rayuan para mukmin adalah ayat Al-Qur’an,
gombal mereka adalah seruan taat kepada Allah.
Dan rindu mereka adalah dakwah di jalan Allah.

Bagi mukmin-mukminah, cinta bukan sebatang coklat-setangkai mawar,
bagi mereka, cinta berarti perlawanan, perjuangan, dengan kata atau pena.